Jumat, 15 Oktober 2021

Audio ke-65: Pembahasan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam Mengumpulkan 2 Surat yang Maknanya Hampir Sama dalam 1 Rakaat Bag 03

╔══❖•ೋ°📖° ೋ•❖══╗
                    Whatsapp              
       Grup Islam Sunnah | GiS
        *☛ Pertemuan ke-65*
╚══❖•ೋ°👥° ೋ•❖══╝ 

🌏 https://grupislamsunnah.com/ 

🗓  JUM'AT
        08 Rabi'ul Awwal 1443 H
        15 Oktober 2021 M 

👤  Oleh: Ustadz Dr. Musyaffa Ad Dariny M.A. حفظه الله تعالى 

📚    *Kitab Shifatu Sholatin Nabiyyi Shallallahu 'alaihi Wa Sallam Minattakbiri ilattaslim Ka-annaka Taroha (Sifat Shalat Nabi Mulai dari Takbir sampai Salamnya seakan-akan Anda Melihatnya) karya Asy Syekh Al-Albani -Rahimahullah.* 

💽   Audio ke-65: Pembahasan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam Mengumpulkan 2 Surat yang Maknanya Hampir Sama dalam 1 Rakaat Bag 03 

══════════════════ 

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الحمد لله، والصلاة والسلام على رسول الله، وعلى آله وصحبه ومن تبع هداه 

Kaum muslimin dan kaum muslimat yang saya cintai karena Allah, khususnya anggota GiS -Grup Islam Sunnah- yang semoga dirahmati dan diberkahi oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala. 

Pada kesempatan yang berbahagia ini kita akan bersama-sama mengkaji sebuah kitab yang sangat bagus yang ditulis oleh Asy Syaikh Al Albani rahimahullah, yakni kitab Sifat Shalat Nabi atau sebagaimana judul aslinya Shifatu Shalatin Nabiyyi Shallallahu 'alaihi wa Sallam Minattakbiri ilattaslim Ka-annaka Taraha (Sifat Shalat Nabi Mulai dari Takbir sampai Salamnya Seakan-akan Anda Melihatnya).

Beliau mengatakan, 

وكان أحيانا يجمع بين السور من السبع الطوال، ك { البقرة } و { النساء } و { آل عمران } في ركعة واحدة من صلاة الليل كما سيأتي، وكان يقول : 

❲ أفضل الصلاة طول القيام ❳ 

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam dahulu kadang-kadang menggabungkan surat-surat yang panjang yang berjumlah tujuh, dalam satu rakaat. Seperti surat Al-Baqarah, surat An-Nisaa', surat Ali ‘Imran, digabung dalam satu rakaat, di shalat malamnya tapi, bukan di shalat wajibnya. 

Shalat malamnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam dahulu panjang sekali. Bisa dibayangkan, surat Al-Baqarah itu berapa? 48 halaman. Kalau kita anggap satu juz itu 20 halaman, maka surat Al-Baqarah itu 2 juz setengah kurang dua halaman. Satu juznya 20 halaman, juz pertama juz kedua ini lengkap 40 halaman, ditambah 8 halaman. Ini baru surat Al-Baqarah. 

Kemudian surat Ali ‘Imran, ditambah lagi surat An-Nisaa'. Ini kalau sampai surat An-Nisaa' selesai, surat Ali ‘Imran dengan surat An-Nisaa', kalau sampai selesai maka itu menjadi 5 juz. 5 juz hampir lima halaman. Bayangkan, 5 juz lebih dalam satu rakaat. Ini menunjukan betapa kuatnya ibadahnya nabi kita Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa Sallam.  

Ini sesuatu yang menakjubkan, bagaimana Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam dahulu benar-benar semangat dalam ibadah dan sangat menikmati ibadah Beliau. 

Dan Beliau dahulu pernah mengatakan, “Shalat yang paling mulia, paling afdal, adalah shalat yang panjang berdirinya”. 

Jadi kalau misalnya dibanding-bandingkan lebih afdal mana, shalat yang panjang berdirinya ataukah yang panjang sujudnya, maka yang lebih mulia, lebih afdal, adalah shalat yang panjang berdirinya. Dan itulah yang menjadi kebiasaan nabi kita Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa Sallam. 

Dan beliau dengan tegas mengatakan demikian, “Shalat yang paling afdal itu shalat yang panjang berdirinya [Jabir berkata; Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Shalat yang paling afdlal (utama) adalah shalat yang lama berdirinya." _(Hadits Shahih Muslim nomor 1257 dalam "Kitab Shalatnya musafir dan penjelasan tentang qashar"), -ed_ ]".

و ❲ كان إذا قرأ : { أَلَيۡسَ ذَٰلِكَ بِقَٰدِرٍ عَلَىٰٓ أَن يُحۡـِۧيَ ٱلۡمَوۡتَىٰ } قال : سبحانك فَبَلى، ❳ 

Ini di akhir surat Al-Qiyamah, 

{ لَآ أُقۡسِمُ بِيَوۡمِ ٱلۡقِيَٰمَةِ وَلَآ أُقۡسِمُ بِٱلنَّفۡسِ ٱللَّوَّامَةِ } 

Nanti di akhirnya, akhir surat, 

{ أَلَيۡسَ ذَٰلِكَ بِقَٰدِرٍ عَلَىٰٓ أَن يُحۡـِۧيَ ٱلۡمَوۡتَىٰ } 

Kalau Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam membaca ayat ini, Beliau biasa membaca { سُبْحَانَكَ فَبَلَى } .
Artinya: “Maha suci engkau, Ya Allah, dan Engkau benar-benar demikian.” 

❲ وإذا قرأ { سَبِّحِ ٱسۡمَ رَبِّكَ ٱلۡأَعۡلَى } 
قال : { سُبْحَانَ رَبِّيَ الأعْلَى } ❳ 

Ini kebiasan Beliau, kalau membaca “sabbihisma rabbikal a’laa” Beliau membaca “subhaana rabbiyal a’laa”. Karena arti dari “sabbihisma rabbikal a’laa,” artinya apa? "Sucikanlah nama Tuhanmu yang maha tinggi". 

Maka ketika ada perintah seperti ini, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam langsung menjalankannya dengan mengatakan “subhaana rabbiyal a’laa” (Maha suci Rabbku yang Maha tinggi). Ada perintah, langsung Beliau jalankan. 

Namun hal ini di shalat malam. Ketika shalat sendiri juga tidak masalah. Jangan menjadi imam, kemudian ketika membaca “sabbihisma rabbikal a’laa” kemudian menambahinya dengan “subhaana rabbiyal a’laa”. 

Syaikh Albani rahimahullahu Ta’ala dalam catatan kakinya, beliau tidak sepakat dengan pendapat sebagian ulama yang mengatakan ini di shalat malam saja. Beliau mengatakan hadits tersebut, bahwa ketika Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam membaca:
{ أَلَيۡسَ ذَٰلِكَ بِقَٰدِرٍ عَلَىٰٓ أَن يُحۡـِۧيَ ٱلۡمَوۡتَىٰ }
Beliau membaca { سُبْحَانَكَ فَبَلَى }.
Dan apabila membaca,

{ سَبِّحِ ٱسۡمَ رَبِّكَ ٱلۡأَعۡلَى }

Beliau membaca {سُبْحَانَ رَبِّيَ الأعْلَى }. 

Kata beliau hadits ini diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud dan Imam Al-Baihaqy dengan sanad yang shahih. Dan redaksi hadits ini mutlak, sehingga hadits ini mencakup bacaan di dalam shalat dan di luar shalat, baik shalat tersebut shalat sunnah maupun shalat wajib. 

Diriwayatkan dari Abu Musa Al-Asy’ari dan sahabat Al-Mughiirah, bahwa keduanya pernah membaca hal tersebut di shalat fardhu, sehingga tidak masalah apabila seseorang membaca

{ سُبْحَانَكَ فَبَلَى } 

ketika mendengarkan,

{ أَلَيۡسَ ذَٰلِكَ بِقَٰدِرٍ عَلَىٰٓ أَن يُحۡـِۧيَ ٱلۡمَوۡتَىٰ },

dan membaca { سُبْحَانَ رَبِّيَ الأَعْلَى } 

ketika mendengar atau membaca

{ سَبِّحِ ٱسۡمَ رَبِّكَ ٱلۡأَعۡلَى }

walaupun di shalat wajib. 


Demikianlah yang bisa kita kaji pada kesempatan kali ini. Semoga menjadi ilmu yang bermanfaat dan diberkahi oleh Allah Jalla wa 'Ala. 

InsyaaAllah kita akan lanjutkan pada kesempatan yang akan datang. 

والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته


══════ ∴ |GiS| ∴ ══════   

📣 Official Account Grup Islam Sunnah  

📱 Fanpage: web.facebook.com/grupislamsunnah
📷 Instagram: instagram.com/grupislamsunnah
🌐 WebsiteGBS: grupbelanjasunnah.com
📧 Telegram: t.me/s/grupislamsunnah
🎥 YouTube: bit.ly/grupislamsunnah

Rabu, 13 Oktober 2021

Audio ke-64: Pembahasan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam Mengumpulkan 2 Surat yang Maknanya Hampir Sama dalam 1 Rakaat Bag 02

╔══❖•ೋ°📖° ೋ•❖══╗
                    Whatsapp              
       Grup Islam Sunnah | GiS
           *☛ Pertemuan ke-64*
╚══❖•ೋ°👥° ೋ•❖══╝ 

🌏 https://grupislamsunnah.com/ 

🗓  KAMIS
        07 Rabi'ul Awwal 1443 H
        14 Oktober 2021 M 

👤  Oleh: Ustadz Dr. Musyaffa Ad Dariny M.A. حفظه الله تعالى 

📚    *Kitab Shifatu Sholatin Nabiyyi Shallallahu 'alaihi Wa Sallam Minattakbiri ilattaslim Ka-annaka Taroha (Sifat Shalat Nabi Mulai dari Takbir sampai Salamnya seakan-akan Anda Melihatnya) karya Asy Syekh Al-Albani -Rahimahullah.* 

💽   Audio ke-64: Pembahasan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam Mengumpulkan 2 Surat yang Maknanya Hampir Sama dalam 1 Rakaat Bag 02 

══════════════════ 

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الحمد لله، والصلاة والسلام على رسول الله، وعلى آله وصحبه ومن تبع هداه 

Kaum muslimin dan kaum muslimat yang saya cintai karena Allah, khususnya anggota GiS -Grup Islam Sunnah- yang semoga dirahmati dan diberkahi oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala. 

Pada kesempatan yang berbahagia ini kita akan bersama-sama mengkaji sebuah kitab yang sangat bagus yang ditulis oleh Asy Syaikh Al Albani rahimahullah, yakni kitab Sifat Shalat Nabi atau sebagaimana judul aslinya Shifatu Shalatin Nabiyyi Shallallahu 'alaihi wa Sallam Minattakbiri ilattaslim Ka-annaka Taraha (Sifat Shalat Nabi Mulai dari Takbir sampai Salamnya Seakan-akan Anda Melihatnya.


Kalau saya melihat keterangan atau penjelasan-penjelasan yang seperti ini; bacaan-bacaan surat yang dulu dibaca Rasulullah Shallallahu ‘alahi wa Sallam dalam shalatnya; saya ingat dengan janji Allah Subhanahu wa Ta’ala untuk menjaga agama ini. Bayangkan sudah 1400 tahun penjelasan yang sangat detil seperti ini bisa sampai kepada kita dengan sanad-sanad yang shahih. Ini sesuatu yang menakjubkan. Seakan-akan kita melihat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam sekarang sedang shalat dan membaca dengan surat-surat yang disebutkan. 

Ini baru sebagiannya, belum nanti keterangan selanjutnya. Ini menunjukkan bahwa memang agama Islam ini agama yang memang benar-benar dijaga oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala kemurniannya. Memang ada orang-orang yang berusaha untuk merusak agama Islam. Tapi tetap saja kalau kita mencari Islam yang murni, sampai sekarang kita akan dapatkan itu. Dengan sanad-sanad yang benar-benar bisa dipertanggungjawabkan, benar-benar itu dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam. 

Tidak ada yang seperti agama Islam, dalam penjagaan Allah Subhanahu wa Ta’ala terhadap agama Islam ini. 

{ إِنَّا نَحۡنُ ‌نَزَّلۡنَا ٱلذِّكۡرَ وَإِنَّا لَهُۥ لَحَٰفِظُونَ } 

"Sesungguhnya kamilah yang menurunkan Adz-Dzikr (Al-Qur’an) dan kamilah yang benar-benar akan menjaganya" (QS. Al-Hijr: 9) 

Kalau Al-Qur’an dijaga, maka pendukung-pendukung Al-Qur’an pun akan dijaga. Sebagaimana hadits Nabi Muhammad Shallallahu ‘alahi wa Sallam dijaga oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala, syariat Islam ini juga dijaga. Setiap 100 tahun Allah mengutus seorang pembaharu yang memperbarui agama Islam, maksudnya menguatkan kembali agama Islam. Ini merupakan keistimewaan agama Islam. Selalu dijaga oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala kemurniannya. 

Ada sebuah faidah yang bisa kita ambil dari penjelasan ini, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam tidak mengurutkan bacaannya sesuai dengan urutan mushaf yang ada di dalam/di zaman kita ini. Dalam mushaf Al-Qur’an tersebut ada urutan-urutannya. Kalau kita lihat, di sini Beliau tidak mengurutkan sebagaimana urutan yang ada di dalam Al-Qur’an. Kadang-kadang membaca surat, kemudian surat setelahnya; sebenarnya dalam urutan mushaf itu adalah surat sebelumnya. 

Misalnya di sini, membaca surat Ar-Rahmaan dan An-Najm dalam satu rakaat. Surat An-Najm itu lebih dahulu dalam urutan mushaf daripada surat Ar-Rahmaan. Tapi di sini Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa Sallam membaca surat Ar-Rahmaan dan membaca surat An-Najm. Membaca surat Ar-Rahmaan dahulu kemudian membaca surat An-Najm. Tidak sesuai dengan urutan mushaf. 

Ini menunjukkan kalau dalam satu rakaat saja tidak menjadi masalah kita membaca surat yang lebih akhir, kemudian membaca surat setelahnya surat yang lebih awal, apalagi kalau dalam dua rakaat. Maka tidak masalah, misalnya, kita membaca di rakaat pertama An-Naas misalnya. Kemudian di rakaat kedua membaca Al-Kaafiruun misalnya. Tidak menjadi masalah, karena hadits-hadits ini. Kalau dalam satu rakaat saja tidak masalah, apalagi dalam dua rakaat. 

Contohnya lagi misalnya Beliau membaca, kadang-kadang membaca Ath-Thuur dan Adz-Dzaariyaat. Adz-Dzaariyaat ini dalam urutannya lebih dahulu daripada Ath-Thuur. Jadi Adz-Dzaariyaat dahulu, setelah Adz-Dzaariyaat: Ath-Thuur. Tapi Beliau membaca Ath-Thuur, kemudian membaca Adz-Dzaariyaat. 

Di sini juga sangat jelas, {wailul lil muthaffifiin} wa {‘Abasa}. Lebih duluan mana, {‘Abasa} atau {wailul lil muthaffifiin}? ‘Abasa. Tapi di sini Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam membaca {wailul lil muthaffifiin} kemudian membaca {‘Abasa}. Tidak urut seperti urutan mushaf. 

Wal Muddatstsir wal Muzzammil. Surat Al-Muddatstsir itu lebih akhir daripada surat Al-Muzammil. Dalam urutan mushaf Al-Muzzammil dahulu, setelah Al-Muzzammil apa? Al-Muddatstsir. Tapi Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam di sini mendahulukan surat Al-Muddatstsir kemudian membaca surat Al-Muzzammil. 

Contohnya lagi surat {hal ataa} dan surat {laa uqsimu}. Jelas surat {laa uqsimu} itu lebih dahulu. Surat Al-Qiyamah itu lebih dahulu daripada surat Al-Insaan, tapi Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam membaca surat Al-Insan, kemudian setelah itu membaca surat Al-Qiyamah. 

Begitu pula selanjutnya, {‘amma yatasaa`aluun wal mursalaat}. Dalam satu rakaat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam membaca surat An-Naba' dahulu kemudian membaca surat Al-Mursalaat. Padahal urutannya surat Al-Mursalaat itu akhir juz 29, setelah itu mulai juz 30 {‘amma yatasaa`aluun}. Harusnya Al-Mursalat kemudian {‘amma yatasaa`aluun}. Tapi Rasulullah baca {‘amma yatasaa`aluun} dahulu, kemudian membaca surat Al-Mursalaat. 

Ini contoh-contoh dahulu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak mengurutkan bacaan di dalam shalatnya sebagaimana urutan mushaf. Kadang beliau membaca surat yang lebih akhir dahulu, kemudian setelah itu membaca surat yang lebih awal dalam urutan mushafnya. 


Demikianlah yang bisa kita kaji pada kesempatan kali ini. Semoga menjadi ilmu yang bermanfaat dan diberkahi oleh Allah Jalla wa 'Ala. 

InsyaaAllah kita akan lanjutkan pada kesempatan yang akan datang. 

والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته


══════ ∴ |GiS| ∴ ══════   

📣 Official Account Grup Islam Sunnah  

📱 Fanpage: web.facebook.com/grupislamsunnah
📷 Instagram: instagram.com/grupislamsunnah
🌐 WebsiteGBS: grupbelanjasunnah.com
📧 Telegram: t.me/s/grupislamsunnah
🎥 YouTube: bit.ly/grupislamsunnah

Selasa, 12 Oktober 2021

Audio ke-62: Pembahasan Bacaan Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam setelah Membaca Al Fatihah Bag 02

╔══❖•ೋ°📖° ೋ•❖══╗
                    Whatsapp              
       Grup Islam Sunnah | GiS
           *☛ Pertemuan ke-62*
╚══❖•ೋ°👥° ೋ•❖══╝ 

🌏 https://grupislamsunnah.com/ 

🗓 SELASA
        05 Rabi'ul Awwal 1443 H
        12 Oktober 2021 M 

👤  Oleh: Ustadz Dr. Musyaffa Ad Dariny M.A. حفظه الله تعالى 

📚    *Kitab Shifatu Sholatin Nabiyyi Shallallahu 'alaihi Wa Sallam Minattakbiri ilattaslim Ka-annaka Taroha (Sifat Shalat Nabi Mulai dari Takbir sampai Salamnya seakan-akan Anda Melihatnya) karya Asy Syekh Al-Albani -Rahimahullah.* 

💽   Audio ke-62: Pembahasan Bacaan Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam setelah Membaca Al Fatihah Bag 02 

══════════════════    

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الحمد لله، والصلاة والسلام على رسول الله، وعلى آله وصحبه ومن تبع هداه 

Kaum muslimin dan kaum muslimat yang saya cintai karena Allah, khususnya anggota GiS -Grup Islam Sunnah- yang semoga dirahmati dan diberkahi oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala. 

Pada kesempatan yang berbahagia ini kita akan bersama-sama mengkaji sebuah kitab yang sangat bagus yang ditulis oleh Asy Syaikh Al Albani rahimahullah, yakni kitab Sifat Shalat Nabi atau sebagaimana judul aslinya Shifatu Shalatin Nabiyyi Shallallahu 'alaihi wa Sallam Minattakbiri ilattaslim Ka-annaka Taraha (Sifat Shalat Nabi Mulai dari Takbir sampai Salamnya Seakan-akan Anda Melihatnya).


Pada kajian kali ini kita akan membahas bacaan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam setelah Al-Fatihah. 

و كان يبتدئ من أول السورة و يكملها في أغلب أحواله 

"Dan biasanya bacaan suratnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam adalah dari awal surat sampai akhir surat" 

Ini sunnahnya, dan yang paling banyak dari keadaan Beliau adalah seperti ini. Kalau Beliau membaca setelah Al-Fatihah, biasanya membaca dari awal surat sampai akhir surat. Kalau misalnya membaca { سَبِّحِ اسۡمَ رَبِّكَ الۡاَعۡلَىۙ‏ } ya sampai akhir dalam satu rakaat. Membaca Al-Fajr dari awal sampai akhir; membaca An-Naba dari awal sampai akhir dalam satu rakaat. Ini keadaan yang paling sering dilakukan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. 

Dan ini sangat sering ditinggalkan oleh imam. Sering kali imam itu membacanya potongan-potongan surat. Bahkan kadang-kadang seorang imam malu kalau membaca surat-surat yang sering kali dibaca atau sering didengar. Akhirnya membaca potongan-potongan surat yang panjang, diambil potongan-potongannya. 

Hal tersebut bukan haram, bukan juga makruh, tapi yang lebih afdal adalah sebagaimana sering dilakukan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam; membaca dari awal surat sampai akhir surat. 
و يقول :
"Dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengatakan" 

❲ أعطوا كل سورة حظَّها من الركوع و السجود ❳ 

"Berikanlah setiap surat bagiannya dari rukuk dan sujud" 

Maksudnya ketika kita selesai membaca surat, maka rukuklah dan kemudian setelah itu sujud. Ini kebiasaan Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Ketika membaca surat, maka Beliau memilih membaca surat dari awal sampai akhir. 

(و في لفظ : ❲ لكل سورة ركعة ❳) 

"Setiap surat itu mempunyai bagian rukuk" 
و كان تارة يقسمها في ركعتين 

"Kadang-kadang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam membagi surat menjadi dua" 

Ini kadang-kadang. Makanya kita tidak boleh mengatakan itu makruh, karena ini dilakukan juga oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Kita hanya boleh mengatakan: afdalnya dibaca dari awal sampai akhir. Kalau ingin misalnya meringkas atau memendekkan shalat kita, maka pilih surat yang pendek, tapi dari awal sampai akhir. Kalau ingin memanjangkan, pilih surat yang panjang dari awal sampai akhir. Meskipun kalau dibagi menjadi dua pun tidak masalah. Sebagaimana kadang-kadang dilakukan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. 
و تارة يعيدها كلها في الركعة الثانية 

"Kadang-kadang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengulang surat yang sama di dua rakaatnya" 

Jadi misalnya rakaat pertama, misalnya membaca Al-A'la, di rakaat kedua membaca Al-A'la lagi. Ini kadang-kadang dilakukan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Dan ini bisa menjadi solusi bagi yang misalnya hanya hafal Al-Ikhlas saja. Boleh membaca Al-Ikhlas di rakaat yang pertama, di rakaat yang kedua membaca Al-Ikhlas lagi, tidak masalah, sesuai dengan sunnah Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. 

و كان أحيانا يجمع في الركعة الواحدة  بين السورتين أو أكثر 

"Kadang-kadang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dalam satu rakaatnya membaca lebih dari satu surat" 

-> Terutama ketika suratnya pendek, kadang dua surat, kadang 3 surat, kadang lebih dari itu. 

Ini juga bisa dilakukan. Dan ini biasanya dilakukan oleh jamaah shalat tarawih ketika sampai di juz 30. Biasanya merapel; ada surat-surat yang pendek dan kalau dibaca satu surat, (lalu) rukuk, maka tidak akan lengkap, nanti tidak bisa 30 juz misalnya atau 15 juz, sehingga harus ada penggabungan surat-surat yang pendek. 

و قد ❲ كان رجل من الأنصار يؤمهم في مسجد ( قباء)، و كان كلما افتتح سورة يقرأ بها لهم في الصلاة مما يقرأ به، افتتح ب { قل هو الله أحد } ❳ 

Intinya, ini ada sebuah kisah di masjid Quba' dan kisah ini aneh, makanya ada seorang sahabat yang mengingkari. Ada seorang imam dan imam ini dipandang sebagai seorang yang terhormat. Orang-orang menginginkan dia sebagai imam. Tapi imam ini punya kebiasaan yang aneh. Kebiasaannya: selesai membaca Al-Fatihah, dia membaca { قُلۡ هُوَ اللّٰهُ اَحَدٌ‌ } dahulu. Selesai. Setelah itu membaca surat yang lain. Kebiasaannya seperti ini. Di rakaat kedua juga seperti itu. Setelah membaca Al-Fatihah ia membaca { قُلۡ هُوَ اللّٰهُ اَحَدٌ‌ } dahulu, kalau ingin membaca surat-surat yang lainnya. 

Akhirnya diingkari oleh sahabat yang lain. Kenapa kamu seperti ini? Seharusnya yang engkau lakukan sudah cukup Al-Ikhlas saja, tidak usah ditambahi dengan surat yang lainnya. Atau surat yang lainnya saja, tidak ada surat Al-Ikhlas lagi. Kenapa setiap rakaat ada surat Al-Ikhlas-nya? Ini disebutkan dalam riwayat ini. Orang tersebut tetap bersikukuh, "Tidak, saya tetap menginginkan seperti ini". Dia mengatakan:
❲ ما أنا بتاركها،  ❳ 

"Saya tidak mau meninggalkan (pokoknya saya ingin seperti ini)" 

❲ إن أحببتم أن أؤمكم بذلك فعلت، ❳ 

"Kalau kalian senang aku menjadi imam, maka saya akan melakukan yang seperti ini"
❲ و إن كرهتم تركتكم ،  ❳ 

"Kalau kalian tidak suka, saya tidak mau jadi imam"
❲ و كانوا يرون أنه من أفضلهم، ❳ 

"Tapi sayangnya mereka melihat orang ini yang paling afdal, yang paling mulia dari mereka"
❲ وكرهوا أن يؤمهم غيره،  ❳ 

"Mereka tidak ingin orang lain menjadi imam mereka" 

Tapi keadaannya seperti ini. 

❲ فلما أتاهم النبي صلى الله عليه و سلم أخبروه الخبر،  ❳ 

"Ketika mereka datang kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, mereka menceritakan tentang keadaan mereka"
❲ فقال :  ❳
"Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengatakan" 

❲ يا فلان! ما يمنعك أن تفعل ما يأمرك به أصحابك? ❳ 

"Wahai fulan, apa yang menghalangimu menerima nasihat mereka atau masukan mereka? mereka adalah teman-temanmu, mereka sahabatmu” 

❲ وما يحملك على لزوم هذه السورة في كل ركعة? ❳ 

Rasulullah bertanya lagi, "Apa yang menjadikan kamu harus membaca surat ini di setiap rakaat?" 

Kata orang ini mengatakan:
❲ إني أحبها ❳ 

"Aku mencintai surat ini (Al-Ikhlas)"
Aku mencintai surat ini, aku tidak bisa meninggalkan membaca surat ini. 

Subhanallah, orang dahulu mungkin ya orang ini asalnya musyrik. Ketika mendapatkan hidayah Islam, mungkin orang ini sangat senang dengan konsep ketuhanan Islam. 
{ قُلۡ هُوَ اللّٰهُ اَحَدٌ‌ } 

"Katakanlah bahwa Allah adalah Zat yang Esa (satu)"
{ اَللّٰهُ الصَّمَدُ‌ } 

"Allah lah yang dibutuhkan oleh segala sesuatu selain-Nya dan segala sesuatu membutuhkanNya"
{ لَمۡ يَلِدۡ  ۙ وَلَمۡ يُوۡلَدۡ } 

" Dia tidak beranak dan tidak diperanakkan"
{ وَلَمۡ يَكُنۡ لَّهٗ كُفُوًا اَحَدٌ } 

"Dan tidak ada seorang pun yang sama dengan Allah Subhanahu wa Ta'ala" 

Orang ini mungkin setelah mendapat hidayah Islam, sangat menghargai konsep ketuhanan dalam Islam; konsep tauhid di dalam Islam, sehingga ingin mengingatkan dirinya kepada tauhid ini dengan membaca surat Al-Ikhlas di setiap rakaatnya. 

Ketika orang ini mengatakan [ إني أحبها ]
"saya mencintai surat ini", kata Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam:

❲ حبك إياها أدخلك الجنة ❳ 

"Kecintaanmu kepada surat Al-Ikhlas tersebut akan memasukkanmu ke dalam syurga" 

Inilah kemuliaan para sahabat Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam.  Ada di antara mereka yang sudah tau masuk surga sebelum mereka meninggal. Ini, kenikmatan yang seperti ini tidak akan bisa kita dapatkan di zaman setelah Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam wafat. 

______ 

Demikian yang bisa ana sampaikan dalam kesempatan kali ini. Mudah-mudahan  Allah berkahi ilmu kita, mudah-mudahan Allah mudahkan kita dalam mengamalkannya, dan mudah-mudahan Allah Subhanahu wa Ta’ala meneguhkan kita di atas jalan sunnah nabi-Nya Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam  hingga ajal menjemput kita, dan hingga Allah Subhanahu wa Ta’ala mempertemukan kita bersama nabi-Nya di surga firdaus-Nya.
Aamiin aamiin yarabbal ‘alaamiin. 

و صلى الله و سلم مبارك على نبينا محمد و على آله و صحبه و من تبعهم بإحسان إلى يوم الدين و الحمد لله رب العالمين 

══════ ∴ |GiS| ∴ ══════  

📣 Official Account Grup Islam Sunnah 

📱 Fanpage: web.facebook.com/grupislamsunnah
📷 Instagram: instagram.com/grupislamsunnah
🌐 WebsiteGBS: grupbelanjasunnah.com
📧 Telegram: t.me/s/grupislamsunnah
🎥 YouTube: bit.ly/grupislamsunnah

Audio ke-63: Pembahasan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam Mengumpulkan 2 Surat yang Maknanya hampir Sama dalam 1 Rakaat

╔══❖•ೋ°📖° ೋ•❖══╗
                    Whatsapp              
       Grup Islam Sunnah | GiS
           *☛ Pertemuan ke-63*
╚══❖•ೋ°👥° ೋ•❖══╝ 

🌏 https://grupislamsunnah.com/ 

🗓  RABU
        06 Rabi'ul Awwal 1443 H
        13 Oktober 2021 M 

👤  Oleh: Ustadz Dr. Musyaffa Ad Dariny M.A. حفظه الله تعالى 

📚    *Kitab Shifatu Sholatin Nabiyyi Shallallahu 'alaihi Wa Sallam Minattakbiri ilattaslim Ka-annaka Taroha (Sifat Shalat Nabi Mulai dari Takbir sampai Salamnya seakan-akan Anda Melihatnya) karya Asy Syekh Al-Albani -Rahimahullah.* 

💽   Audio ke-63: Pembahasan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam Mengumpulkan 2 Surat yang Maknanya hampir Sama dalam 1 Rakaat 

══════════════════ 

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الحمد لله، والصلاة والسلام على رسول الله، وعلى آله وصحبه ومن تبع هداه 

Kaum muslimin dan kaum muslimat yang saya cintai karena Allah, khususnya anggota GiS -Grup Islam Sunnah- yang semoga dirahmati dan diberkahi oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala. 

Pada kesempatan yang berbahagia ini kita akan bersama-sama mengkaji sebuah kitab yang sangat bagus yang ditulis oleh Asy Syaikh Al Albani rahimahullah, yakni kitab Sifat Shalat Nabi atau sebagaimana judul aslinya Shifatu Shalatin Nabiyyi Shallallahu 'alaihi wa Sallam Minattakbiri ilattaslim Ka-annaka Taraha (Sifat Shalat Nabi Mulai dari Takbir sampai Salamnya Seakan-akan Anda Melihatnya).


Kita sampai pada pembahasan, dahulu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam biasa mengumpulkan dua surat yang maknanya atau kandungannya hampir sama dalam satu rakaat. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam menggandengkan antara surat-surat yang serupa dari segi makna dan lainnya dalam satu rakaat. 

Disebutkan oleh Syaikh Albani rahimahullahu Ta’ala, 

❲ وكان يقرن بين النظائر من المفصل ❳ 

"Dahulu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam biasa menggandengkan/menggabungkan antara surat-surat yang serupa maknanya dari surat-surat yang tergolong dalam kategori surat-surat al-Mufashal." 

Surat al-Mufashal, di sini ada perbedaan di kalangan para ulama dari mana mulainya surat al-Mufashal ini. Ada yang mengatakan dari Al-Hujuraat, surat Al-Hujuraat. Ada yang mengatakan mulainya dari surat Qaaf. Ada yang mulainya dari surat Al-Hujuraat, ada yang mulainya dari surat Qaaf, sampai akhir Al-Qur’an, sampai An-Naas. 

Pendapat yang lebih kuat sebagaimana dikuatkan oleh Al-Haafizh Ibnu Hajar Al-Asqalaaniy, bahwa surat al-Mufashal (surat-surat al-Mufashal ini surat-surat pendek karena banyaknya potongan-potongan ayat dalam surat tersebut) dimulainya dari surat Qaaf di juz 26 sampai An-Naas. Inilah surat-surat al-Mufashal. Kalau diterjemahkan dengan terjemahan yang sederhana: surat yang ayatnya pendek-pendek. Ini dimulai dari surat Qaaf sampai surat An-Naas. 

Dan dahulu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam biasa menggabungkan surat-surat al-Mufashal tersebut yang maknanya hampir sama, serupa dari sisi makna, menjelaskan tentang hal yang sama misalnya. Beliau biasa menggabungkan. Dan dahulu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam shalatnya biasanya panjang kalau dibandingkan dengan shalatnya orang sekarang. 
Bisa dilihat dalam penjelasan Syaikh Albani di sini. Seperti misalnya, 

❲ فكان يقرأ سورة { الرحمن } و { النجم } في ركعة ❳ 

"Dahulu beliau kadang-kadang membaca surat Ar-Rahmaan dan surat An-Najm dalam satu rakaat." 

Surat Ar-Rahmaan hampir tiga halaman. Surat An-Najm juga hampir tiga halaman. Ini dalam satu rakaat. Ini menunjukkan bahwa beliau panjang membacanya. Kalau tiga tambah tiga jadi enam halaman. Satu rakaat yang lumayan panjang. Dibandingkan dengan shalatnya orang sekarang, shalat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam termasuk panjang. 

❲ و { ٱقۡتَرَبَتِ } ٱلسَّاعَةُ وٱقۡتَرَبَتِ و { الحاقة } في ركعة ❳ 

Beliau kadang juga membaca surat Iqtarabat/surat Al-Qamar dua halaman lebih, hampir tiga halaman juga. Al-Haaqqah ini hampir dua halaman. Tiga tambah dua, sekitar lima halaman. 

❲ و { الطور } و { الذاريات } في ركعة ❳ 

Kadang Beliau membaca surat Ath-Thuur di juz 27. Surat Ath-Thuur ini juga sekitar dua setengah halaman. Digabung dengan surat Adz-Dzaariyaat hampir tiga halaman. Hampir lima halaman berarti kalau digabung dalam satu rakaat. 

❲ و { إذا وقعت } و { ن } في ركعة ❳ 

Kadang Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam membaca surat Al-Waaqi’ah, tiga halaman lebih dikit, dengan Nuun. Nuun, surat Nuun dua halaman lebih dikit. Lima halaman juga. 

❲ و { سَأَلَ سَآئِلُۢ } وَ { ٱلنَّٰزِعَٰتِ } في ركعة ❳ 

Beliau kadang-kadang menggabungkan surat Sa`ala saa`il dan surat An-Naaz’iaat dalam satu rakaat. 

{Sa`ala saa`ilun bi ‘adzaabin waaqi’} dua halaman kurang dikit, dengan An-Naazi’aat. An-Naazi’aat satu setengah halaman, dengan dua halaman kurang dikit, berarti tiga setengah-an, tiga setengah halaman dalam satu rakaat. 

❲ و { وَيۡلٞ لِّلۡمُطَفِّفِينَ } و { عبس } في ركعة ❳ 

Kadang Rasulullah Shallallahu ‘alahi wa Sallam membaca surat {Wailul lil muthaffiifiin} dan surat ‘Abasa dalam satu rakaat. 

Surat wailul lil muthaffifiin satu halaman lebih dikit dan surat ‘Abasa satu setengah halaman. Berarti dua setengah halaman. Hampir tiga halaman. 

❲ و { المدثر } و { المزمل } في ركعة ❳ 

Kadang Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam membaca surat Al-Muddatstsir dan surat Al-Muzzammil dalam satu rakaat.

Surat Al-Muddatstsir hampir dua halaman. Surat Al-Muzzammil satu setengah halaman. Tiga setengah halaman dalam satu rakaat. 

❲ و { هَلۡ أَتَىٰ } و { لَآ أُقۡسِمُ بِيَوۡمِ ٱلۡقِيَٰمَةِ } في ركعة ❳ 

Kadang Rasulullah Shallallahu ‘alahi wa Sallam membaca surat {hal ataa}/surat Al-Insaan. Surat Al-Insaan ini hampir dua halaman. Dan surat {laa uqsimu bi yaumil qiyaamah} satu halaman lebih sedikit. Kira-kira tiga halaman lebih sedikit kalau dua surat tersebut digabung dalam satu rakaat. 

❲ و { عَمَّ يَتَسَآءَلُونَ } وَ { ٱلۡمُرۡسَلاتِ } في ركعة ❳ 

Beliau juga kadang membaca surat An-Naba` {‘amma yatasaa`aluun} satu setengah halaman digabung dengan {wal mursalaat} juga satu setengah halaman. Dalam satu rakaat berarti menjadi tiga halaman. 

❲ و { الدخان } و { إِذَا ٱلشَّمۡسُ كُوِّرَتۡ } في ركعة ❳ 

Kadang beliau membaca surat Ad-Dukhkhaan. Surat Ad-Dukhkhaan ini tiga halaman. Ditambah dengan surat {idzasy syamsu kuwwirat} ini satu halaman; empat halaman dalam satu rakaat. 

Inilah bacaan-bacaan surat yang dulu dibaca oleh Rasulullah Shallallahu ‘alahi wa Sallam dalam shalatnya. 

______ 

Demikianlah yang bisa kita kaji pada kesempatan kali ini. Semoga menjadi ilmu yang bermanfaat dan diberkahi oleh Allah Jalla wa 'Ala. 

InsyaaAllah kita akan lanjutkan pada kesempatan yang akan datang. 

والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته


══════ ∴ |GiS| ∴ ══════   

📣 Official Account Grup Islam Sunnah  

📱 Fanpage: web.facebook.com/grupislamsunnah
📷 Instagram: instagram.com/grupislamsunnah
🌐 WebsiteGBS: grupbelanjasunnah.com
📧 Telegram: t.me/s/grupislamsunnah
🎥 YouTube: bit.ly/grupislamsunnah

Senin, 11 Oktober 2021

Audio ke-61: Pembahasan Bacaan Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam Setelah Membaca Al Fatihah

╔══❖•ೋ°📖° ೋ•❖══╗
                    Whatsapp              
       Grup Islam Sunnah | GiS
           *☛ Pertemuan ke-61*
╚══❖•ೋ°👥° ೋ•❖══╝ 

🌏 https://grupislamsunnah.com/ 

🗓  SENIN
          04 Rabi'ul Awwal 1443 H
        11 Oktober 2021 M

👤  Oleh: Ustadz Dr. Musyaffa Ad Dariny M.A. حفظه الله تعالى 

📚   *Kitab Shifatu Sholatin Nabiyyi Shallallahu 'alaihi Wa Sallam Minattakbiri ilattaslim Ka-annaka Taroha (Sifat Shalat Nabi Mulai dari Takbir sampai Salamnya seakan-akan Anda Melihatnya) karya Asy Syekh Al-Albani -Rahimahullah.* 

💽   Audio ke-61: Pembahasan Bacaan Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam Setelah Membaca Al Fatihah 

══════════════════    

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الحمد لله، والصلاة والسلام على رسول الله، وعلى آله وصحبه ومن تبع هداه 

Kaum muslimin dan kaum muslimat yang saya cintai karena Allah, khususnya anggota GiS -Grup Islam Sunnah- yang semoga dirahmati dan diberkahi oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala. 

Pada kesempatan yang berbahagia ini kita akan bersama-sama mengkaji sebuah kitab yang sangat bagus yang ditulis oleh Asy Syaikh Al Albani rahimahullah, yakni kitab Sifat Shalat Nabi atau sebagaimana judul aslinya Shifatu Shalatin Nabiyyi Shallallahu 'alaihi wa Sallam Minattakbiri ilattaslim Ka-annaka Taraha (Sifat Shalat Nabi Mulai dari Takbir sampai Salamnya Seakan-akan Anda Melihatnya).


Pada kajian kali ini kita akan membahas bacaan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam setelah Fatihah. 

Di sini Syaikh Albani رحمه الله تعالى  benar-benar meneliti, meneliti apa saja yang dibaca oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam dalam shalatnya setelah membaca Al-Fatihah. Kalau kita lihat keterangan Syaikh Albani رحمه الله تعالى , ini menunjukkan bahwa beliau benar-benar meneliti, dan sangat banyak sekali hadits yang harus dibaca oleh beliau dan ringkasannya diberikan kepada kita. Sangat sulit untuk mendapatkan keterangan seperti ini di kitab-kitab yang lainnya. 

  -   قِرَاءَتُهُ ﷺ بعدَ {الفاتحة}   - 

"Apa yang dibaca oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam setelah membaca Al-Fatihah dalam shalatnya" 

ثم كان ﷺ يقرأ بعد {الفاتحة} سورة غيرها، 

"Kemudian Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam membaca surat yang lain setelah membaca Al-Fatihah" 

و كان يطيلها أحيانا، 

"kadang-kadang Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam memanjangkan bacaannya" 
(memanjangkan bacaan surat setelah Al-Fatihah) 

و يقصرها أحيانا 

"dan kadang-kadang Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam memendekkan bacaan surat yang dibaca setelah bacaan Al-Fatihah"
لعارض سفر ، 

"karena alasan sedang dalam perjalanan"
أو سعال، 

"atau karena sakit batuk"
أو مرض، 

"atau sedang lelah, Beliau sakit" (dalam keadaan sakit)
أو بكاء صبي، 

"bahkan ketika Beliau mendengar ada anak kecil yang menangis" 

Ada anak kecil yang menangis di belakang dan itu mengganggu makmum, atau mengganggu ibunya; perasaan ibunya menjadi tidak khusyuk. Makanya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam  melihat maslahat ini, akhirnya Beliau memendekkan shalatnya. 

كما قال أنس بن مالك رضي الله عنه : 

Sebagaimana dikatakan oleh sahabat Anas ibnu Malik رضي الله عنه: 

❲ جوز ﷺ ذات يوم في الفجر ❳ 

"Pernah suatu ketika Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam memendekkan shalat Subuhnya" 
-> Karena kebiasaan Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam ketika shalat Subuh bacaannya panjang. 

Ada sebuah riwayat yang mengatakan bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam ketika shalat Subuh rata-rata bacaan beliau lebih dari 100 ayat. 

( و في حديث آخر : صلى الصبح فقرأ بأقصر سورتين في القرآن ) 

"Dalam hadits yang lain redaksinya: Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam  pernah shalat Subuh dan Beliau di shalat Subuh tersebut membaca dua surat yang paling pendek di dalam Al-Qur’an"
-> Padahal kebiasaan Beliau, Beliau memanjangkan shalat Subuhnya. 

فقيل : يا رسول الله ! لم جوزت ? 

"Maka bertanyalah para sahabat: Wahai Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, kenapa engkau memendekkan shalatmu?"
Ini bukan kebiasaanmu, wahai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. 

قال: ❲ سمعت بكاء صبي، فظننت أن أمه معنا تصلي ، فأردت أن أفرغ له أُمَّه ❳ 

"Aku mendengar ada anak kecil, dan aku mengira ibunya bersama kita shalat, maka aku pun ingin ibunya segera selesai menjalankan shalatnya dan mengurusi anak tersebut" 

Karena kalau anak sedang menangis, ibunya ada di situ, tentunya ibu ini kekhusyukannya akan terganggu. Dari pada shalat lama tidak khusyuk, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam ingin menyegerakan shalatnya. Dan akhirnya ibu tersebut bisa segera mengurusi anaknya. 

Inilah bukti rahmatnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam; kasih sayang Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam  kepada umatnya. 

Wajar apabila Allah Subhanahu wa Ta’ala mengatakan: 

{ وَمَآ أَرْسَلْنَـٰكَ إِلَّا رَحْمَةًۭ لِّلْعَـٰلَمِينَ } 

"Kami tidaklah utus engkau wahai Muhammad, kecuali sebagai bentuk rahmat bagi seluruh alam"
(Surat Al-Anbiya (21) Ayat 107) 

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam sendiri mengatakan: 
❲ أنا رحمة مهداة ❳ 

"Aku adalah rahmatnya Allah Subhanahu wa Ta’ala yang dihadiahkan kepada kalian" 

Memang Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam sangat penyayang kepada umatnya.
{ بِٱلْمُؤْمِنِينَ رَءُوفٌۭ رَّحِيمٌۭ } 

Disebutkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam surat Bara'ah (Surat At-Taubah (9) Ayat 128) termasuk di antara sifat Beliau adalah Beliau sangat menyayangi kaum mukminin.
    
و كان يقول : ❲ إني لا أدخل في الصلاة و أنا أريد إطالتها، ❳ 

"Sungguh aku benar-benar pernah sudah memulai shalat, dan ketika itu aku ingin memanjangkan shalat tersebut" 

❲ فأسمع بكاء الصبي، ❳ 

"Tapi kemudian setelah itu aku mendengar tangisan anak" 

❲ فأتجوز في صلاتي مما أعلم من شدة وجد أمه من بكائه ❳ 

"Maka aku pun akhirnya memendekkan shalatku, karena aku tahu betapa terganggunya perasaan ibu tersebut karena sebab tangisan anaknya" 

Hadits-hadits ini menunjukkan bahwa kadang-kadang Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam memendekkan shalatnya karena suatu alasan. 

Seorang imam apabila misalnya melihat hal-hal yang seperti ini, yang bisa mengganggu makmumnya, maka disyariatkan bagi imam untuk memendekkan shalatnya. 
Misalnya masjidnya penuh, dan melihat karena saking penuhnya masjid, sehingga apa? makmum shalatnya tidak nyaman. Bagi seorang imam ketika melihat keadaan seperti ini, disunnahkan bagi dia, dianjurkan bagi dia, untuk memendekkan shalat sehingga makmum bisa segera menyelesaikan shalatnya. 

Apalagi di zaman yang seperti ini, di hari-hari yang seperti ini. Lagi mendung-mendungnya, kemudian imam mengimami. Dikhawatirkan kalau shalatnya terlalu panjang dan makmum banyak, ada yang di luar, dikhawatirkan kehujanan. Dikhawatirkan turun hujan. Maka dalam keadaan yang seperti ini, bisa menjadi alasan bagi seorang imam untuk memendekkan shalatnya, dan ini dianjurkan. 

Sebagaimana dahulu dilakukan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam karena alasan.
Coba lebih butuh mana untuk dipendekkan shalatnya: ibu yang mendengar anaknya menangis ataukah makmum yang lain yang takut kehujanan? Lebih butuh makmum yang takut kehujanan. Khawatir hujan, kalau hujan dia basah semuanya. Makanya kalau keadaannya demikian, maka disyariatkan bagi imam untuk memendekkan shalatnya, sebagaimana dahulu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam memendekkan shalatnya karena kebutuhan-kebutuhan tertentu, karena keadaan-keadaan tertentu, alasan-alasan tertentu, melihat maslahat makmum. 

______ 

Demikian yang bisa ana sampaikan dalam kesempatan kali ini. Mudah-mudahan  Allah berkahi ilmu kita, mudah-mudahan Allah mudahkan kita dalam mengamalkannya. Dan mudah-mudahan Allah Subhanahu wa Ta’ala meneguhkan kita di atas jalan sunnah nabi-Nya, Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam,  hingga ajal menjemput kita, dan hingga Allah Subhanahu wa Ta’ala mempertemukan kita bersama nabi-Nya di Surga Firdaus-Nya.
Aamiin aamiin yarabbal ‘alaamiin.


و صلى الله و سلم مبارك على نبينا محمد و على آله و صحبه و من تبعهم بإحسان إلى يوم الدين و الحمد لله رب العالمين

══════ ∴ |GiS| ∴ ══════  

📣 Official Account Grup Islam Sunnah 

📱 Fanpage: web.facebook.com/grupislamsunnah
📷 Instagram: instagram.com/grupislamsunnah
🌐 WebsiteGBS: grupbelanjasunnah.com
📧 Telegram: t.me/s/grupislamsunnah
🎥 YouTube: bit.ly/grupislamsunnah

Jumat, 08 Oktober 2021

Audio ke-60: Pembahasan Membaca Al Fatihah ~ Membaca Aamiin dan Imam Mengeraskannya Bag 03

╔══❖•ೋ°📖° ೋ•❖══╗
                    Whatsapp              
       Grup Islam Sunnah | GiS
         *☛ Pertemuan ke-60*
╚══❖•ೋ°👥° ೋ•❖══╝ 

🌏 https://grupislamsunnah.com 

🗓  01 Rabi'ul Awwal 1443 H
        08 Oktober 2021 M

👤  Oleh: Ustadz Dr. Musyaffa Ad Dariny M.A. حفظه الله تعالى 

📚    *Kitab Shifatu Sholatin Nabiyyi Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam Minattakbiri ilattaslim Ka-annaka Taroha (Sifat Shalat Nabi Mulai dari Takbir sampai Salamnya seakan-akan Anda Melihatnya) karya Asy Syekh Al-Albani -Rahimahullah.* 

💽   Audio ke-60: Pembahasan Membaca Al Fatihah ~ Membaca Aamiin dan Imam Mengeraskannya Bag 03 

══════════════════   

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الحمد لله، والصلاة والسلام على رسول الله، وعلى آله وصحبه ومن تبع هداه 

Kaum muslimin dan kaum muslimat yang saya cintai karena Allah, khususnya anggota GiS -Grup Islam Sunnah- yang semoga dirahmati dan diberkahi oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala. 

Pada kesempatan yang berbahagia ini kita akan bersama-sama mengkaji sebuah kitab yang sangat bagus yang ditulis oleh Asy Syaikh Al Albani rahimahullah, yakni kitab Sifat Shalat Nabi atau sebagaimana judul aslinya Shifatu Shalatin Nabiyyi Shallallahu 'Alaihi wa Sallam Minattakbiri ilattaslim Ka-annaka Taraha (Sifat Shalat Nabi Mulai dari Takbir sampai Salamnya Seakan-akan Anda Melihatnya). 


Pada kajian kali ini kita akan membahas: 

  -    التَّأمِينُ وَجَهْرُ الإمامِ بِهِ   - 

"Masalah membaca Aamiin dan ketika membaca Aamiin, maka imam mengeraskannya" 

و كان يقول :
"Dan Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam juga mengatakan" 

❲ ما حسدتكم اليهود على شيء ما حسدتكم على السلام و التأمين [ خلف الإمام ] ❳ 

"Orang-orang Yahudi tidak hasad kepada kalian sebagaimana hasadnya mereka kepada kalian dalam salam dan bacaan 'Aamiin' di belakang imam" 

Ketika kita bertemu dengan orang lain, apa yang kita ucapkan? 
السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ    

Ini doa kebaikan. 
"Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala memberikan keselamatan kepadamu, Allah memberikan rahmat kepadamu, Allah memberikan keberkahan kepadamu."

Ini menjadikan orang Yahudi iri kepada kita, karena dalam ajaran mereka tidak ada seperti ini. Salamnya orang Yahudi lambaian tangan saja. Tapi salamnya kita: 
السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ
Makanya orang Yahudi iri dengan kita, karena ini adalah sesuatu yang sangat mulia. 

Kalau kita sebarkan salam ini, betapa banyaknya kebaikan yang tersebar, karena setiap orang mendoakan orang lain. Kemudian yang didoakan membalas dengan doa yang sama. Bahkan dianjurkan lebih baik dari itu. 

{ وَإِذَا حُیِّیتُم بِتَحِیَّةࣲ فَحَیُّوا۟ بِأَحۡسَنَ مِنۡهَاۤ أَوۡ رُدُّوهَاۤۗ } 

"Apabila kalian diberikan salam, maka balaslah dengan salam yang lebih baik atau paling tidak, sama" 

Ketika ada orang yang mengatakan "Assalamu’alaikum", maka Allah memerintahkan untuk membalasnya dengan yang lebih baik:  "wa’alaikumussalam warahmatullah" atau ditambahi "wabarakatuhu". Ini yang lebih baik. Atau paling tidak membalasnya dengan salam yang sama, "wa’alaikumussalam". 

Kalau orangnya mengatakan "Assalamu’alaikum warahmatullah", maka kita membalasnya "wa’alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh". Ini yang paling afdal, atau membalasnya dengan yang sama: "wa’alaikumussalam warahmatullah". Jangan sampai kurang dari itu. Jangan sampai "wa’alaikumussalam" saja. Walaupun tidak haram, tidak, tapi jangan sampai demikian, karena Allah Subhanahu wa Ta’ala menganjurkan kepada kita untuk ya paling tidak sama, jangan sampai kurang dari itu. 

Bagaimana Ustadz, kalau salamnya sudah lengkap, "Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuhu". Apakah kita membalasnya dengan tambahan, kemudian kita mengatakan, "Wa’alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuhu wani'matuhu wafadhluhu", apakah demikian? Tidak. Kita berhenti pada apa yang diajarkan oleh nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Kalau ingin menambahi silahkan, tapi doanya terpisah. Dipisahkan dengan salam. Jangan ditambah-tambahi dengan sesuatu tambahan yang bersambung dengan salamnya. 

Misalnya kalau ada orang bersalam dengan kita dengan salam yang lengkap, kita jawab salam tersebut sampai "wabarakatuhu", kemudian setelah itu kita langsung yang memulai pembicaraan. Itu juga bisa kita lakukan, dan itu baik. Sehingga kita melakukan sesuatu yang lebih baik dari apa yang dia lakukan. 

Thoyyib, ini yang pertama yang orang-orang Yahudi iri kepada kita sebagai kaum muslimin. 

Sesuatu yang kedua, yang orang Yahudi iri kepada kita adalah membaca "Aamiin" dalam shalat. 

Jadi kaum muslimin ketika shalat, itu mereka benar-benar khusyuk, mereka benar-benar bermunajat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, dan ketika itu imam memintakan untuk dirinya dan makmumnya hidayah. Kemudian makmumnya dan imamnya mengatakan "Aamiin". Ini sesuatu yang menjadikan orang-orang Yahudi iri. 

Belum lagi keutamaannya yang sangat besar. Kalau Aamiin-nya kita berbarengan dengan Aamiin-nya malaikat, maka Allah Subhanahu wa Ta’ala akan mengampuni dosa-dosa kita yang telah lalu. 

Ada sesuatu yang sangat menarik dari perkataan Syaikhul Islam Ibnu Taymiyyah رحمه الله ketika beliau membicarakan tentang masalah doa. Jadi seorang pemimpin doa, kalau ada orang yang berdoa dan diaminkan oleh orang lain, seperti misalnya khotib, kalau misalnya berdoa dia dan diaminkan oleh jamaah; atau misalnya ada sebuah acara yang seseorang diminta untuk berdoa diaminkan oleh jamaahnya; atau misalnya ketika shalat istisqa' ada doa seorang imam yang diaminkan oleh para jamaahnya; ini makruh hukumnya kalau seorang imam mengkhususkan dirinya di dalam doa tersebut agar diamini oleh para jamaah. 

Kita senang tidak, didoakan oleh orang banyak? Senang. Tapi kalau misalnya caranya seperti itu, ini makruh. Disebutkan oleh para ulama, ini makruh. Bahkan ada hadits yang menjelaskan khusus masalah ini. Tapi sayangnya haditsnya lemah. 

Para ulama mereka telah menjelaskan bahwa ini makruh, hukumnya makruh. Misalnya kalau ada seorang imam dia berdoa diaminkan oleh jamaahnya. Dia berdoanya "Ya Allah, sembuhkanlah anakku yang sedang sakit", kemudian imam mengatakan "Aamiin". Dia memanfaatkan kesempatan, karena dia seorang imam dan akan diamini oleh banyak orang, akhirnya dia ingin mendoakan untuk dirinya sendiri. Misalnya "Ya Allah, saya ini sedang sakit, sembuhkanlah aku" kemudian makmum: "Aamiin". Ini makruh, mengkhususkan diri dalam doanya padahal dia sedang berdoa bersama banyak orang. 

Syaikhul Islam ibnu Taymiyyah mengatakan, makanya di dalam Al-Fatihah itu dhomirnya dhomir jamak [ اهدنا ] (tunjukillah kami), agar imam terhindar dari kemakruhan ini. 
Kata-katanya tidak [ اِھْدِنِي الصِّرَاطَ الْمُسْتَـقِيْمَ ], "tunjukillah aku". Tidak. Tapi kata-katanya "Tunjukilah kami jalan yang lurus". Sehingga ketika imam membaca Al-Fatihah, kemudian makmum membaca "Aamiin", imam tidak terjatuh ke dalam sesuatu yang dibenci. Makanya dhomirnya atau kata gantinya adalah kata ganti jamak. Ini cara berdalil yang sangat menarik. 

Kenapa Allah Subhanahu wa Ta’ala mengganti dhomir di situ dengan dhomir atau dengan kata ganti yang umum? Karena Fatihah ini dibaca ketika shalat, dan dibaca oleh imam dan nantinya diaminkan oleh makmum. Maka sangat pas ketika dhomir tersebut kata gantinya menggunakan kata ganti yang jamak. 

______ 

Demikianlah yang bisa kita kaji pada kesempatan kali ini. Semoga  menjadi ilmu yang bermanfaat dan diberkahi oleh Allah Jalla wa 'Alaa. 

InsyaaAllah kita akan lanjutkan pada kesempatan yang akan datang. 

والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته 

══════ ∴ |GiS| ∴ ══════  

📣 Official Account Grup Islam Sunnah 

📱 Fanpage: web.facebook.com/grupislamsunnah
📷 Instagram: instagram.com/grupislamsunnah
🌐 WebsiteGBS: grupbelanjasunnah.com
📧 Telegram: t.me/s/grupislamsunnah
🎥 YouTube: bit.ly/grupislamsunnah

Rabu, 06 Oktober 2021

Audio ke-59: Pembahasan Membaca Al-Fatihah ~ Membaca Aamiin dan Imam Mengeraskannya Bag 02

╔══❖•ೋ°📖° ೋ•❖══╗
                    Whatsapp              
       Grup Islam Sunnah | GiS
           *☛ Pertemuan ke-59*
╚══❖•ೋ°👥° ೋ•❖══╝ 

🌏 https://grupislamsunnah.com 

🗓  KAMIS
         30 Shafar 1443 H
         07 Oktober 2021 M

👤  Oleh: Ustadz Dr. Musyaffa Ad Dariny M.A. حفظه الله تعالى 

📚    *Kitab Shifatu Sholatin Nabiyyi Shallallahu 'alaihi Wa Sallam Minattakbiri ilattaslim Ka-annaka Taroha (Sifat Shalat Nabi Mulai dari Takbir sampai Salamnya seakan-akan Anda Melihatnya) karya Asy Syekh Al-Albani -Rahimahullah.* 

💽   Audio ke-59: Pembahasan Membaca Al-Fatihah ~ Membaca Aamiin dan Imam Mengeraskannya Bag 02 

══════════════════  

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الحمد لله، والصلاة والسلام على رسول الله، وعلى آله وصحبه ومن تبع هداه 

Kaum muslimin dan kaum muslimat yang saya cintai karena Allah, khususnya anggota GiS -Grup Islam Sunnah- yang semoga dirahmati dan diberkahi oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala. 

Pada kesempatan yang berbahagia ini kita akan bersama-sama mengkaji sebuah kitab yang sangat bagus yang ditulis oleh Asy Syaikh Al Albani rahimahullah, yakni kitab Sifat Shalat Nabi atau sebagaimana judul aslinya Shifatu Shalatin Nabiyyi Shallallahu 'alaihi wa Sallam Minattakbiri ilattaslim Ka-annaka Taraha (Sifat Shalat Nabi Mulai dari Takbir sampai Salamnya Seakan-akan Anda Melihatnya).


Pada kajian kali ini kita akan membahas: 

  -    التَّأمِينُ وَجَهْرُ الإمامِ بِهِ   - 

"Masalah membaca Aamiin dan ketika membaca Aamiin, maka imam mengeraskannya" 

وفي حديث آخر    
Di dalam hadits yang lain, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menyabdakan:
❲ فقولوا : آمين ❳ 

Maksudnya ketika seorang imam selesai membaca Al-Fatihah, "maka bacalah: Aamiin"
❲ يجبكم الله ❳ 

"Maka Allah Subhanahu wa Ta’ala akan mengijabahi doa kalian" 

"Aamiin" dalam bahasa Arab artinya "Ya Allah, ijabahilah permintaanku, doaku" 

[ اللهم استجب لي ] 

Inilah Aamiin dalam bahasa Arab. Makanya ketika kita membaca "Aamiin" atau mengatakan "Aamiin", itu sebenarnya kita sedang berdoa.
Dan doanya, doa yang kita maksud adalah doa yang dibaca oleh imam ketika membaca: 

{ اِھْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَـقِيْمَ } 

"Tunjukilah kami jalan yang lurus" 

{ صِرَاطَ الَّذِيۡنَ اَنۡعَمۡتَ عَلَيۡهِمۡ } 

"Yaitu jalan orang yang Engkau berikan kenikmatan" (yakni kaum muslimin) 

Yang Engkau berikan kenikmatan yaitu kaum muslimin, yang mereka mentaati Allah dan rasul-Nya; orang-orang salih, orang-orang syuhada', orang-orang siddiqin (yang benar-benar mengikuti Allah dan rasul-Nya). Sebagaimana disebutkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam ayat yang lain: 

{ أُو۟لَـٰٓئِكَ ٱلَّذِينَ أَنْعَمَ ٱلله عَلَيْهِم مِّنَ ٱلنَّبِيِّـۧي وَٱلصِّدِّيقِينَ وَٱلشُّهَدَآءِ وَٱلصَّـٰلِحِينَ ۚ } 

"Merekalah orang-orang yang diberikan nikmat oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala, mereka yaitu para nabi, para siddiqin, para syuhada', dan orang-orang yang saleh." 

{ صِرَاطَ الَّذِيۡنَ اَنۡعَمۡتَ عَلَيۡهِمۡ } 

"Yaitu jalannya orang-orang yang Engkau berikan kenikmatan" 

Jalannya para nabi, jalannya para siddiqin, jalannya para syuhada', jalannya orang-orang yang saleh. 

{ غَيۡرِ الۡمَغۡضُوۡبِ عَلَيۡهِمۡ } 

"Bukan jalannya orang yang Engkau murkai (yaitu orang-orang Yahudi)" 

{ وَلَا الضَّآلِّيۡنَ } 

"Dan bukan pula jalannya orang-orang yang sesat"
-> Ditafsirkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam (yaitu) orang-orang Nasrani. 

Kenapa orang Yahudi dimurkai oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala? Karena mereka tahu, tapi tidak mengamalkan. Mereka tahu bahwa agama Islam ini agama yang benar. Bahkan di dalam surat Al-Baqarah, Allah Subhanahu wa Ta’ala mengatakan, menyebutkan sifat mereka. 

{ ٱلَّذِينَ يَعْرِفُونَهُۥ كَمَا يَعْرِفُونَ أَبْنَآءَهُمْ ۖ} 

"Mereka itu tahu Alkitab sebagaimana mereka tahu anak-anak mereka" 

Sebagaimana mereka tahu anak-anak mereka, ilmunya tinggi. Bagaimana pengetahuan kita terhadap anak kita? Kita tahu seluk-beluk anak kita, sedetil-detilnya. Orang Yahudi juga demikian. Mereka tahu Alkitab sebagaimana mereka tahu anak-anaknya, tapi mereka tidak mau mengamalkan ilmunya. Ini orang yang dimurkai oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala. 

Sebaliknya, orang-orang Nasrani itu sesat, karena mereka tidak tahu ilmu tapi banyak mengamalkan. Kebalikan, ilmunya tidak ada tapi amalannya banyak sehingga amalan-amalan tersebut salah. Banyak yang salah karena tidak didasari oleh ilmu, makanya jadinya sesat. 

Oleh karenanya, jangan sampai kita sebagai kaum muslimin yang berdoa setiap hari seperti ini, kemudian kita mengikuti jalan-jalan mereka. 
Kalau kita punya ilmu, maka amalkan ilmu tersebut. Kalau belum ada ilmunya, jangan mengamalkan. Kalau punya ilmu, amalkan ilmu tersebut semampunya, sekuat tenaga. Kalau tidak punya ilmu, maka jangan mengamalkan. Karena amalan yang tanpa dasar ilmu bisa jadi sia-sia (yang pertama); bisa jadi mendatangkan dosa (yang kedua). Oleh karenanya, Islam adalah agama yang benar-benar harus didasari oleh bukti ilmiah. 

Islam melarang khurafat. Keyakinan-keyakinan yang tanpa dasar dilarang oleh Islam. 

Dalam masalah dunia pun demikian. Kita tidak boleh meyakini sesuatu yang tidak berdasarkan bukti ilmiah. Apalagi dalam masalah agama. Kalau kita melakukan sesuatu ibadah, maka harus ada dasarnya. Inilah Islam. Sangat menjunjung tinggi bukti ilmiah. Makanya firman Allah Subhanahu wa Ta’ala yang pertama kali turun tentang bacaan. 

{ اِقۡرَاۡ بِاسۡمِ رَبِّكَ الَّذِىۡ خَلَقَ‌ۚ } 

"Bacalah dengan nama Rabb-mu yang telah menciptakan" 

Membaca ini pintu untuk mendapatkan ilmu. Inilah kemuliaan Islam. Ketika kita melakukan sesuatu, baik dalam masalah dunia maupun dalam masalah agama maka dasarilah dengan ilmu. 

و في حديث آخر : 

"Dalam hadits yang lain, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam mengatakan:" 

❲ فقولوا : آمين يجبكم الله ❳ 

"Maka bacalah Aamiin, Allah Subhanahu wa Ta’ala akan mengijabahi permintaan kalian" 

______ 

Demikianlah yang bisa kita kaji pada kesempatan kali ini. Semoga  menjadi ilmu yang bermanfaat dan diberkahi oleh Allah Jalla wa 'Alaa. 

InsyaaAllah kita akan lanjutkan pada kesempatan yang akan datang. 

والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته 

══════ ∴ |GiS| ∴ ══════  

📣 Official Account Grup Islam Sunnah 

📱 Fanpage: web.facebook.com/grupislamsunnah
📷 Instagram: instagram.com/grupislamsunnah
🌐 WebsiteGBS: grupbelanjasunnah.com
📧 Telegram: t.me/s/grupislamsunnah
🎥 YouTube: bit.ly/grupislamsunnah