Kamis, 18 November 2021

Audio ke-90 : Pembahasan tentang Dzikir-Dzikir yang Disunnahkan untuk Dibaca Ketika Rukuk

╔══❖•ೋ°📖° ೋ•❖══╗
                     Whatsapp              
         Grup Islam Sunnah | GiS
          *☛ Pertemuan ke-90*
╚══❖•ೋ°👥° ೋ•❖══╝

🌏 https://grupislamsunnah.com/

🗓 JUM'AT
        14 Rabi'uts Tsani 1443 H
        19 November 2021 M

👤  Oleh: Ustadz Dr. Musyaffa Ad Dariny M.A. حفظه الله تعالى

📚    *Kitab Shifatu Sholatin Nabiyyi Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam Minattakbiri ilattaslim ka-annaka Taroha (Sifat Shalat Nabi mulai dari Takbir sampai Salamnya seakan-akan Anda Melihatnya) karya Asy Syekh Al-Albani -Rahimahullah.*

💽  Audio ke-90 : Pembahasan tentang Dzikir-Dzikir yang Disunnahkan untuk Dibaca Ketika Rukuk

══════════════════    

السَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللّٰهِ وَبَرَكَاتُهُ. 

الْحَمْدُ لِلهِ وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى رَسُوْلِ اللّٰهِ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ
وَمَنْ تَبِعَ هُدَاهُ. 

Kaum muslimin dan kaum muslimat yang saya cintai karena Allah, khususnya anggota GiS -Grup Islam Sunnah- yang semoga dirahmati dan diberkahi oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala. 

Pada kesempatan yang berbahagia ini kita akan bersama-sama mengkaji sebuah kitab yang sangat bagus yang ditulis oleh Asy Syaikh Al Albani rahimahullah, yakni kitab Sifat Shalat Nabi atau sebagaimana judul aslinya Shifatu Shalatin Nabiyyi Shallallahu 'alaihi wa Sallam Minattakbiri ilattaslim Ka-annaka Taraha (Sifat Shalat Nabi Mulai dari Takbir sampai Salamnya Seakan-akan Anda Melihatnya).

Syaikh Albani rahimahullahu Ta’ala mengatakan dalam kitabnya, 

[ أذْكَارُ الرُّ كُوعِ ] 

"Dzikir-dzikir yang Disunnahkan untuk Dibaca ketika Rukuk" 

Bacaan rukuk ini sangat banyak dan kita dibolehkan untuk memilih salah satunya. 

“Ustadz, bagaimana kalau kita kumpulkan?”
Ini ada khilaf di antara para ulama dalam masalah mengumpulkan beberapa doa rukuk yang akan kita baca dalam satu rukuk untuk melamakan rukuk misalnya. Atau imamnya lama, akhirnya kita ingin membaca beberapa bacaan yang disunnahkan untuk dibaca ketika rukuk. 

Ada khilaf di antara para ulama dalam masalah ini. Ada yang mengatakan tidak boleh. Yang boleh adalah satu diulang-ulang. Itu termasuk di antara pendapatnya Syaikh Albani rahimahullahu Ta’ala, Syaikh Utsaimin. Mereka mengatakan, “Tidak boleh kita menggabung dua bacaan yang berbeda ketika rukuk. Yang boleh adalah satu bacaan kemudian diulang-ulang.” 

Ada yang mengatakan boleh. Termasuk di antara yang mengatakan pendapat ini adalah Imam Nawawi rahimahullahu Ta’ala. Imam Nawawi rahimahullahu Ta’ala, beliau membolehkan menggabungkan bacaan-bacaan yang berbeda yang datang dari Nabi kita Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa Sallam dalam satu gerakan. 

Misalnya ketika rukuk ada banyak bacaan, kita boleh menggabungkannya. Nanti ketika sujud ada banyak bacaan, kita boleh menggabungkannya. Ketika iftitah misalnya -doa istiftah- kita lihat ada beberapa doa yang berbeda-beda, kita boleh menggabungkannya. 

Pendapat yang lebih kuat adalah pendapat yang dikatakan oleh Imam Nawawi rahimahullahu Ta’ala. Selama bacaan tersebut berbeda, maksudnya dari sisi makna dan dari sisi redaksi, dari sisi kandungan, maka boleh dibaca. Karena tidak ada dalil yang melarangnya. 

Sehingga misalnya doa istiftah, kita boleh membaca doa istiftah dan menggabungkannya. Terutama ketika kita ingin shalatnya lama. Misalnya shalat malam, kita ingin shalat lama, kita boleh menggabungkan doa istiftah tersebut. Terutama doa-doa yang berbeda memang; isinya berbeda, redaksinya jauh berbeda. 

Begitu pula doa rukuk, doa sujud. Ini hampir sama dengan meggabungkan surat-surat ketika kita membaca surat di dalam shalat kita. 

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam, kalau kita melihat bagaimana praktik Beliau membaca surat, yang kita lihat Beliau setiap rakaat itu membaca satu surat. 

Kalau kita gabung bagaimana? Boleh. Tidak masalah kita membaca lebih dari satu surat dalam satu rakaat. 

Begitu pula dengan bacaan-bacaan yang diajarkan oleh Nabi kita Muhammad Shallalahu ‘alaihi wa Sallam. Bacaannya berbeda-beda, kita boleh menggabungkannya. Wallahu a’lam. 

Seperti ini khilaf fiqhiy. Ini khilaf dalam masalah fiqih, sehingga kita harus toleran di dalamnya. 

وكان يقول في هذا الر كن أنواعاً من الأذ كار والأدعية ، تارة بهذا ، وتارة بهذا : 

Pada rukun rukuk ini, Beliau mengucapkan beragam dzikir dan doa secara bervariasi. Sesekali Beliau membaca dengan yang ini, kadang-kadang Beliau membaca dengan yang lainnya. 

Dzikir rukuk yang pertama adalah bacaan 

❲ سُبْحَانَ رَبِّيَ الْعَظِيْمِ ❳ 

“Maha Suci Rabb-ku yang Maha Agung” 

Ini mengagungkan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Ini dibaca sebanyak 3 kali. 

Apakah boleh lebih dari 3 kali? 
Dikatakan oleh Syaikh Albani di sini, “Beliau terkadang mengucapkannya lebih dari 3 kali". Bahkan pernah di shalat malamnya, Beliau membacanya lebih dari itu. Beliau membacanya berulang-ulang, hingga lama rukuknya Beliau hampir sama dengan lama berdirinya Beliau. 

Ini berarti sangat banyak sekali. Karena berdirinya Beliau ketika shalat itu panjang sekali. Di dalam shalat tersebut Beliau membaca 3 surat panjang, yaitu Al-Baqarah, An-Nisaa', Ali Imran. Bacaan ketika shalat itu diselingi dengan doa dan istighfar seperti yang telah disinggung pada pembahasan tentang bacaan surat dalam shalat malam. 

Ketika Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam menggabungkan surat-surat; Al-Baqarah dibaca, Ali Imran dibaca, An-Nisaa' dibaca ketika berdiri; ini lama sekali. 

Kemudian ketika rukuk dan rukuknya hampir sama dengan berdirinya, berarti rukuknya lama sekali. Ketika yang dibaca
( سُبْحَانَ رَبِّيَ الْعَظِيْمِ )
saja, maka Beliau mengulang-ngulang sampai banyak sekali. Ini yang dimaksud oleh Syaikh Albani rahimahullahu Ta’ala. 

Bacaan yang kedua, 

❲ سُبْحَانَ رَبِّيَ الْعَظِيْمِ وَبِحَمْدِه ❳  

sebanyak 3 kali. 
Tambahan [ وَبِحَمْدِهِ ] diperselisihkan oleh para ulama. Ada yang mengatakan sanadnya lemah. Ada yang mengatakan sanadnya bisa dijadikan sebagai hujjah, maksudnya bisa dipegang. 

Dan yang kedua ini yang dipilih oleh Syaikh Albani rahimahullahu Ta’ala. Tapi banyak ulama yang melemahkannya. Dan pendapat Syaikh Albani rahimahullahu Ta’ala juga ada kuat. 

❲ سُبْحَانَ رَبِّيَ الْعَظِيْمِ وَبِحَمْدِهِ ❳ 

Beliau menjelaskan dalam kitab Beliau yang lain “Ashlu Shifati Shalatin Nabiyyi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam”. 

Jadi buku yang kecil ini, sebenarnya adalah buku yang sangat tebal. Di dalam kitab “Ashlu Shifati Shalatin Nabiyyi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam”, beliau menjelaskan semua sandaran perkataan beliau ini. 

Misalnya beliau mengatakan, “Dahulu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam menjauhkan tangannya atau sikunya dari sisi badannya.” Beliau sebutkan riwayat-riwayatnya. Beliau sebutkan lafal riwayat tersebut. 

Jadi di dalam kitab tersebut, beliau menguatkan sanad yang ada tambahan [ وَبِحَمْدِهِ ] . 

❲ سُبْحَانَ رَبِّيَ الْعَظِيْمِ وَبِحَمْدِهِ ❳ 

Ini dibaca 3 kali. 

______ 

Demikianlah yang bisa kita kaji pada kesempatan kali ini. Semoga menjadi ilmu yang bermanfaat dan diberkahi oleh Allah Jalla wa 'Ala. 

InsyaaAllah kita akan lanjutkan pada kesempatan yang akan datang. 

والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته 

══════ ∴ |GiS| ∴ ══════   

📣 Official Account Grup Islam Sunnah  

📱 Fanpage: web.facebook.com/grupislamsunnah
📷 Instagram: instagram.com/grupislamsunnah
🌐 WebsiteGBS: grupbelanjasunnah.com
📧 Telegram: t.me/s/grupislamsunnah
🎥 YouTube: bit.ly/grupislamsunnah

Rabu, 17 November 2021

Audio ke-89 : Pembahasan tentang Wajibnya Tumakninah saat Rukuk Bag 02

╔══❖•ೋ°📖° ೋ•❖══╗
                     Whatsapp              
         Grup Islam Sunnah | GiS
          *☛ Pertemuan ke-89*
╚══❖•ೋ°👥° ೋ•❖══╝

🌏 https://grupislamsunnah.com/

🗓 KAMIS
        13 Rabi'uts Tsani 1443 H
        18 November 2021 M

👤  Oleh: Ustadz Dr. Musyaffa Ad Dariny M.A. حفظه الله تعالى

📚    *Kitab Shifatu Sholatin Nabiyyi Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam Minattakbiri ilattaslim ka-annaka Taroha (Sifat Shalat Nabi mulai dari Takbir sampai Salamnya seakan-akan Anda Melihatnya) karya Asy Syekh Al-Albani -Rahimahullah.*

💽  Audio ke-89 : Pembahasan tentang Wajibnya Tumakninah saat Rukuk Bag 02

══════════════════    

السَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللّٰهِ وَبَرَكَاتُهُ. 

الْحَمْدُ لِلهِ وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى رَسُوْلِ اللّٰهِ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ
وَمَنْ تَبِعَ هُدَاهُ. 

Kaum muslimin dan kaum muslimat yang saya cintai karena Allah, khususnya anggota GiS -Grup Islam Sunnah- yang semoga dirahmati dan diberkahi oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala. 

Pada kesempatan yang berbahagia ini kita akan bersama-sama mengkaji sebuah kitab yang sangat bagus yang ditulis oleh Asy Syaikh Al Albani rahimahullah, yakni kitab Sifat Shalat Nabi atau sebagaimana judul aslinya Shifatu Shalatin Nabiyyi Shallallahu 'alaihi wa Sallam Minattakbiri ilattaslim Ka-annaka Taraha (Sifat Shalat Nabi Mulai dari Takbir sampai Salamnya Seakan-akan Anda Melihatnya).


Syaikh Albani rahimahullahu Ta’ala mengatakan dalam kitabnya, 

وقال أبو هريرة رضي الله عنه : 

Sahabat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu mengatakan, 

❲ نهاني خليلي ﷺ أن أنقر في صلاتي نقر الديك ، ❳ 

Orang yang paling aku cintai, orang yang sangat aku cintai, yaitu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam telah melarangku untuk mematuk di dalam shalatku seperti mematuknya ayam jantan, 

❲ وأن ألتفت التفات الثعلب ، ❳ 

dan Beliau juga melarangku untuk menoleh ke kanan ke kiri seperti menolehnya musang, 

❲ وأن أقعي كإقعاء القرد ❳ 

dan Beliau juga melarangku untuk duduk dengan cara iq’aa’ (yaitu dengan menempelkan pantat ke tanah, menegakkan kedua betis dan paha serta meletakkan kedua tangan ke tanah) seperti cara duduknya kera. 

Seperti cara duduknya kera; kera ketika duduk itu posisinya menempelkan pantat ke tanah, menegakkan kedua betis dan paha, dan meletakkan kedua tangan ke tanah. Ini dilarang semua di dalam shalat. 

Kalau kita melihat dalil-dalil yang menjelaskan hal ini, kita akan bisa menarik kesimpulan bahwa gerakan-gerakan shalat ini sebisa mungkin dijauhkan dari bentuk-bentuk yang menyerupai hewan. 

Bentuk atau keadaan yang menyerupai hewan seperti misalnya mematuknya ayam; ini sesuatu yang tidak baik. Tolah-toleh seperti tolah-tolehnya musang; ini sesuatu yang tidak baik. Seperti hewan, seperti duduknya kera; ini juga tidak boleh. Sujudnya jangan sampai seperti anjing ketika duduk; tangannya ditempelkan semuanya ke tanah. 

Ini menunjukkan bahwa kita sebagai manusia sebisa mungkin menyelisihi hewan sebagaimana kita dilarang menyerupai hewan-hewan tersebut di dalam shalat kita. 

Thayyib.
Kalau ditanya, “Ustadz, duduk seperti itu masa di shalat? Shalat 'kan duduknya seperti duduk tasyahud, atau duduk di antara dua sujud. Seperti itu 'kan?”
Tawarruk atau iftirasy atau iq’aa’ yang dibolehkan. 

Kalau ada yang tanya, “Ustadz, duduk yang seperti duduknya kera, ini kan jauh dari bentuk-bentuk seperti itu? Kenapa dilarang?” 

Karena bisa jadi ada orang yang melakukan yang seperti itu sehingga hal tersebut dilarang oleh Nabi kita Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa Sallam agar tidak ada yang melakukannya. Wallahu a’lam. 

وكان يقول : ❲ أسوأ الناس سر قة الذي يسرق من صلاته ❳ 

Orang yang paling buruk dalam mencuri (maksudnya, pencuri yang paling buruk) adalah orang yang mencuri dari shalatnya. 

Pencuri yang paling buruk adalah orang yang mencuri dari shalatnya. Bagaimana mencuri dari shalatnya? 
Ini pertanyaan para sahabat, 

يا رسول الله ! وكيف يسرق من صلاته ? 

“Wahai, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam, bagaimana seseorang bisa mencuri dari shalatnya?” 

قال : ❲ لا يتم ركو عها وسجودها ❳ 

“Dia tidak menyempurnakan rukuknya dan tidak menyempurnakan sujudnya” 

Itulah orang yang mencuri dari shalatnya. Maksudnya di sini adalah mencuri kesempurnaan sehingga shalatnya menjadi tidak sempurna dan tidak baik. Akhirnya shalatnya tidak sah. 

و ❲ كان يصلي ، فلمح بمؤ خر عينه إلى رجل لا يقيم صلبه في الر كوع والسجود ، ❳ 

Dan dahulu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam pernah, ketika Beliau shalat, sepintas mata Beliau tertuju kepada seseorang yang tidak meluruskan punggungnya pada waktu rukuk dan sujud. 

Akhirnya setelah selesai shalat Beliau mengatakan, 

( يا معشر المسلمين ! إنه لا صلاة لمن لايقيم صلبه في الركوع والسجود ) 

“Wahai kaum muslimin, sesungguhnya shalat tidak sempurna apabila seseorang tidak meluruskan punggungnya (tulang punggungnya) ketika dia rukuk dan sujud” 

وقال في حديث آخر : 

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam mengatakan juga dalam hadits yang lain: 

❲ لا تجز يء صلاة الرجل حتى يقيم ظهره في الر كوع والسجود ❳ 

Tidak sah shalatnya orang sampai dia meluruskan punggungnya pada waktu rukuk dan sujud. 

Tidak sah shalatnya seseorang sampai dia meluruskan punggungnya ketika rukuk dan sujud. Ada yang mengatakan bahwa maksud dari meluruskan di sini adalah tumakninah. Maksudnya, tidak sempurna atau tidak sah shalat seseorang sampai dia benar-benar tumakninah dalam rukuk dan sujudnya. 

____

Demikianlah yang bisa kita kaji pada kesempatan kali ini. Semoga menjadi ilmu yang bermanfaat dan diberkahi oleh Allah Jalla wa 'Ala. 

InsyaaAllah kita akan lanjutkan pada kesempatan yang akan datang. 

والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته 

══════ ∴ |GiS| ∴ ══════   

📣 Official Account Grup Islam Sunnah  

📱 Fanpage: web.facebook.com/grupislamsunnah
📷 Instagram: instagram.com/grupislamsunnah
🌐 WebsiteGBS: grupbelanjasunnah.com
📧 Telegram: t.me/s/grupislamsunnah
🎥 YouTube: bit.ly/grupislamsunnah

Selasa, 16 November 2021

Audio ke-88 : Pembahasan tentang Wajibnya Tumakninah saat Rukuk

╔══❖•ೋ°📖° ೋ•❖══╗
                     Whatsapp              
         Grup Islam Sunnah | GiS
          *☛ Pertemuan ke-88*
╚══❖•ೋ°👥° ೋ•❖══╝

🌏 https://grupislamsunnah.com/

🗓 RABU
        12 Rabi'uts Tsani 1443 H
        17 November 2021 M

👤  Oleh: Ustadz Dr. Musyaffa Ad Dariny M.A. حفظه الله تعالى

📚    *Kitab Shifatu Sholatin Nabiyyi Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam Minattakbiri ilattaslim ka-annaka Taroha (Sifat Shalat Nabi mulai dari Takbir sampai Salamnya seakan-akan Anda Melihatnya) karya Asy Syekh Al-Albani -Rahimahullah.*

💽  Audio ke-88 : Pembahasan tentang Wajibnya Tumakninah saat Rukuk


══════════════════    

السَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللّٰهِ وَبَرَكَاتُهُ. 

الْحَمْدُ لِلهِ وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى رَسُوْلِ اللّٰهِ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ
وَمَنْ تَبِعَ هُدَاهُ. 

Kaum muslimin dan kaum muslimat yang saya cintai karena Allah, khususnya anggota GiS -Grup Islam Sunnah- yang semoga dirahmati dan diberkahi oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala. 

Pada kesempatan yang berbahagia ini kita akan bersama-sama mengkaji sebuah kitab yang sangat bagus yang ditulis oleh Asy Syaikh Al Albani rahimahullah, yakni kitab Sifat Shalat Nabi atau sebagaimana judul aslinya Shifatu Shalatin Nabiyyi Shallallahu 'alaihi wa Sallam Minattakbiri ilattaslim Ka-annaka Taraha (Sifat Shalat Nabi Mulai dari Takbir sampai Salamnya Seakan-akan Anda Melihatnya).

Syaikh Albani rahimahullahu Ta’ala mengatakan dalam kitabnya, 

[ وُجُوبُ الطُّمَأ نِينَةِ في الرُّكُوعِ ] 

"Wajibnya Tumakninah dalam Rukuk" 

و ❲ كان يطمـئن في ر كو عه ❳ 

Dahulu Nabi kita Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa Sallam ketika rukuk Beliau tumakninah. 

Tumakninah itu maksudnya berdiam; tidak cepat, tapi benar-benar tenang; menenangkan badannya. 

وأمر به ❲ المسيء صلا ته ❳ 

Dan Beliau memerintahkan tumakninah ini kepada orang yang tidak benar shalatnya. 

كما سلف أول الفصل السابق 

Sebagaimana telah lalu di bab-bab yang lalu. 

وكان يقول : ❲ أتموا الركوع والسجود ، ❳ 

Dan dahulu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam mengatakan, "Sempurnakanlah rukuk dan sujud kalian," 

❲ فوالذي نفسي بيده ، ❳ 

"Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya," 

❲ إني لأراكم من بعد ظهري ❳ 

"sungguh aku benar-benar bisa melihat kalian dari punggungku" 

❲ إذا ماركعتم ، وإذا ما سجد تم ❳ 

"yaitu ketika kalian rukuk dan ketika kalian sujud" 

Ini termasuk mukjizat Nabi kita Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa Sallam. Beliau mengatakan, “Sungguh aku benar-benar bisa melihat kalian dari belakang. Ketika kalian rukuk, ketika kalian sujud, saya bisa melihat kalian.” 

Ada yang mengatakan bahwa penglihatan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam ini di semua keadaan. Maksudnya, di luar shalat pun Beliau bisa melihat dari belakang. Ada yang mengatakan demikian. 

Ada yang mengatakan ini khusus ketika shalat. Dan Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-‘Asqalaniy rahimahullahu Ta’ala, Beliau menguatkan pendapat yang kedua ini. Yaitu bahwa penglihatan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam dari punggungnya, maksudnya bisa melihat ke belakang itu ketika shalat saja. 

Karena di dalam haditsnya disebutkan: 

❲ إني لأراكم من بعد ظهري إذا ماركعتم ، وإذا ما سجد تم ❳ 

Redaksinya seperti ini, “Sungguh, aku benar-benar bisa melihat kalian dari belakang punggungku ketika kalian rukuk dan sujud.” 

Kata-kata, “ketika kalian rukuk dan sujud” ini membatasi kapan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bisa melihat dari belakang. Sehingga pendapat ini yang lebih kuat dari sisi redaksi haditsnya. Wallahu a’lam. 

و ❲ رأى رجلاً لا يتم ركوعه ،وينقر في سجوده وهو يصلي ، فقال : ❳ 

Dahulu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam pernah melihat ada orang yang tidak menyempurnakan rukuknya - mematuk, seperti ayam mematuk. Jadi sujudnya cepat, dia tidak tumakninah. Orang tersebut mematuk ketika sujudnya. 

فقال :
Maka Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam mengatakan, 

( لو مات هذا على حاله هذه ، مات على غير ملة محمد ﷺ ، 

Seandainya orang ini meninggal dalam keadaan seperti ini (dia shalatnya tidak menyempurnakan rukuknya; mematuk ketika sujudnya) maka dia meninggal tidak di atas agama Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa Sallam. 

Na’uudzubillahi min dzaalik. 

[ ينقر صلاته كما ينقر الغراب الدم ] ، 

"Karena dia mengerjakan shalatnya dengan gerakan yang sangat cepat seperti burung gagak mematuk darah" 

مثل الذي لا يتم ركوعه وينقر في سجوده ، مثل الجا ئع الذي يأكل التمرة والتمر تين لا يغنيان عنه شيئاً ) 

مثل الذي لا يتم ركوعه
Perumpamaan orang yang tidak menyempurnakan rukuknya 

وينقر في سجوده 
dan mematuk ketika sujudnya, 

مثل الجا ئع
itu seperti orang yang lapar 

الذي يأكل التمرة والتمر تين 
tapi dia hanya memakan 1 butir kurma atau 2 butir kurma 

لا يغنيان عنه شيئاً
hal itu tidak cukup baginya sama sekali
(tidak menghilangkan laparnya). 

Ini menunjukkan bahwa orang yang shalat dalam keadaan demikian, shalatnya tidak berguna. Seperti tidak bergunanya satu butir kurma atau dua butir kurma diberikan kepada orang yang kelaparan. Orang yang lapar sekali hanya dikasih satu butir kurma. Tidak bermanfaat, tetap dia lapar sekali. Atau dua butir kurma juga demikian, masih sangat lapar. 

______ 

Demikianlah yang bisa kita kaji pada kesempatan kali ini. Semoga menjadi ilmu yang bermanfaat dan diberkahi oleh Allah Jalla wa 'Ala. 

InsyaaAllah kita akan lanjutkan pada kesempatan yang akan datang. 

والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته


══════ ∴ |GiS| ∴ ══════   

📣 Official Account Grup Islam Sunnah  

📱 Fanpage: web.facebook.com/grupislamsunnah
📷 Instagram: instagram.com/grupislamsunnah
🌐 WebsiteGBS: grupbelanjasunnah.com
📧 Telegram: t.me/s/grupislamsunnah
🎥 YouTube: bit.ly/grupislamsunnah

Senin, 15 November 2021

Audio ke-87 : Pembahasan tentang Rukuk Bag 02

╔══❖•ೋ°📖° ೋ•❖══╗
                     Whatsapp              
         Grup Islam Sunnah | GiS
          *☛ Pertemuan ke-87*
╚══❖•ೋ°👥° ೋ•❖══╝

🌏 https://grupislamsunnah.com/

🗓 SELASA
        11 Rabi'uts Tsani 1443 H
        16 November 2021 M

👤  Oleh: Ustadz Dr. Musyaffa Ad Dariny M.A. حفظه الله تعالى

📚    *Kitab Shifatu Sholatin Nabiyyi Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam Minattakbiri ilattaslim ka-annaka Taroha (Sifat Shalat Nabi mulai dari Takbir sampai Salamnya seakan-akan Anda Melihatnya) karya Asy Syekh Al-Albani -Rahimahullah.*

💽  Audio ke-87 : Pembahasan tentang Rukuk Bag 02

══════════════════    

السَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللّٰهِ وَبَرَكَاتُهُ. 

الْحَمْدُ لِلهِ وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى رَسُوْلِ اللّٰهِ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ
وَمَنْ تَبِعَ هُدَاهُ. 

Kaum muslimin dan kaum muslimat yang saya cintai karena Allah, khususnya anggota GiS -Grup Islam Sunnah- yang semoga dirahmati dan diberkahi oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala. 

Pada kesempatan yang berbahagia ini kita akan bersama-sama mengkaji sebuah kitab yang sangat bagus yang ditulis oleh Asy Syaikh Al Albani rahimahullah, yakni kitab Sifat Shalat Nabi atau sebagaimana judul aslinya Shifatu Shalatin Nabiyyi Shallallahu 'alaihi wa Sallam Minattakbiri ilattaslim Ka-annaka Taraha (Sifat Shalat Nabi Mulai dari Takbir sampai Salamnya Seakan-akan Anda Melihatnya).

Syaikh Albani rahimahullahu Ta’ala mengatakan dalam kitabnya, 

و ❲ كان يجافي ❳ 

Dan Beliau Shallallahu ‘alaihi wa Sallam dahulu menjauhkan, 

❲ مرفقيه عن جنبيه ❳ 

(menjauhkan) kedua siku Beliau dari kedua lambung Beliau (atau sisi badan Beliau) 

Jadi bentuk tangannya seperti orang melingkarkan tangannya. Jadi tidak lurus. Agak seperti kalau misalnya kita memanah, maka bentuk tangan seperti senar atau tali panah itu yang ditarik. Intinya, menjauhkan siku ini dari sisi badan. Menjauhkan siku ini dari sisi badan. Seperti orang melingkarkan tangannya. 

Ini yang disunnahkan. Sifat-sifat seperti ini sifat yang sempurna. Maksudnya kalau tidak seperti inipun tidak masalah. Ini bukan kewajiban. Tapi kalau seperti itu, maka itulah yang paling sempurna. Itulah praktik sebagaimana disebutkan dalam keterangan kitab ini. 

“Ustadz, kalau misalnya kita berjamaah bagaimana, Ustadz? Keadaan sangat rapat.”
Kita katakan, 
{ فَٱتَّقُوا۟ ٱللهَ مَا ٱسْتَطَعْتُمْ } 

Sebisa mungkin seperti itu. Kalau misalnya mengganggu teman yang ada di samping, maka kita tinggalkan hal ini atau seminimal mungkin agar tidak mengganggu temannya yang ada di sampingnya, terutama ketika sangat rapat. Ketika sangat rapat maka kita tidak bisa mempraktikkan sunnah ini.
Ketika kita sedang sendirian atau kita menjadi imam, kita bisa mempraktikkan ini dengan sempurna. 

و ❲ كان إذا ركع بسط ظهره وسوَّاه ❳ 

Dan dahulu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam ketika Beliau rukuk, Beliau membentangkan punggungnya dan meratakannya. 

Ini juga sulit, meratakan punggung ini sulit. Kebanyakan orang itu punggungnya melengkung ketika rukuk. Untuk meratakan ini, ini butuh latihan. Ana sendiri juga dulu sebelum disuruh praktik untuk meratakan punggung, saya tidak sadar kalau punggung ketika rukuk itu seringnya melengkung. Untuk meratakan itu butuh latihan, butuh usaha. Sulit. 

❲ حتى لو صبَّ عليه الماء لاستقر ❳ 

Hingga seandainya dituangkan air di atas punggung Beliau, niscaya air itu tetap di situ (maksudnya tidak tumpah). 

Lurusnya punggung ini, ini perlu latihan. Kalau orang normal, biasanya agak melengkung. Tapi untuk seperti ini, ini agak susah dan perlu latihan. 

Yang disebutkan dalam riwayat, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam benar-benar membentangkannya dan meluruskan bentangan ini. Sampai ketika ditumpahkan air, airnya tidak akan tumpah. Airnya tetap di situ. Ini menunjukkan betapa lurusnya punggungnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam ketika Beliau rukuk. 

وقال لـ ❲ المسيء صلاته ❳ 

Dan Beliau mengatakan kepada orang yang tidak benar shalatnya, 

❲ فإذا ركعت فاجعل را حتيك على ركبتيك وامدُد ظهرك ❳ 

Apabila engkau rukuk maka letakkanlah kedua telapak tanganmu pada kedua lututmu dan luruskan punggungmu. 

❲ ومكن لركوعك ❳ 

Dan mantapkanlah rukukmu. 

Maksudnya jangan hanya sebentar kemudian langsung i’tidal. Tuma'ninah di situ. Diam dan tenangkan anggota badan sampai benar-benar tuma'ninah, benar-benar tenang. Kemudian baru setelah itu i’tidal. 

و ❲ كن لا يصب رأسه ، ولا يقنع ❳ 

Dan dahulu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam tidak menurunkan kepalanya (maksudnya lebih rendah dari punggungnya) dan Beliau juga tidak mengangkatnya (lebih tinggi dari punggung).
- Berarti lurus. Antara punggung dan kepalanya benar-benar lurus. Tidak terlalu ke bawah, tidak menengadah ke atas. 

ولكن بين ذلك. 

Akan tetapi di antara keduanya. 

Berarti benar-benar lurus antara punggung dan kepala. 

______ 

Demikianlah yang bisa kita kaji pada kesempatan kali ini. Semoga menjadi ilmu yang bermanfaat dan diberkahi oleh Allah Jalla wa 'Ala. 

InsyaaAllah kita akan lanjutkan pada kesempatan yang akan datang. 

والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته 

══════ ∴ |GiS| ∴ ══════   

📣 Official Account Grup Islam Sunnah  

📱 Fanpage: web.facebook.com/grupislamsunnah
📷 Instagram: instagram.com/grupislamsunnah
🌐 WebsiteGBS: grupbelanjasunnah.com
📧 Telegram: t.me/s/grupislamsunnah
🎥 YouTube: bit.ly/grupislamsunnah

Audio ke-86: Pembahasan tentang Rukuk

╔══❖•ೋ°📖° ೋ•❖══╗
                     Whatsapp              
         Grup Islam Sunnah | GiS
          *☛ Pertemuan ke-86*
╚══❖•ೋ°👥° ೋ•❖══╝ 

🌏 https://grupislamsunnah.com/ 

🗓 SENIN
       10 Rabi'uts Tsani 1443 H
       15 November 2021 M 

👤  Oleh: Ustadz Dr. Musyaffa Ad Dariny M.A. حفظه الله تعالى 

📚    *Kitab Shifatu Sholatin Nabiyyi Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam Minattakbiri ilattaslim ka-annaka Taroha (Sifat Shalat Nabi mulai dari Takbir sampai Salamnya seakan-akan Anda Melihatnya) karya Asy Syekh Al-Albani -Rahimahullah.* 

💽  Audio ke-86: Pembahasan tentang Rukuk 

══════════════════    

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الحمد لله، والصلاة والسلام على رسول الله، وعلى آله وصحبه ومن تبع هداه 

Kaum muslimin dan kaum muslimat yang saya cintai karena Allah, khususnya anggota GiS -Grup Islam Sunnah- yang semoga dirahmati dan diberkahi oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala. 

Pada kesempatan yang berbahagia ini kita akan bersama-sama mengkaji sebuah kitab yang sangat bagus yang ditulis oleh Asy Syaikh Al Albani rahimahullah, yakni kitab Sifat Shalat Nabi atau sebagaimana judul aslinya Shifatu Shalatin Nabiyyi Shallallahu 'alaihi wa Sallam Minattakbiri ilattaslim Ka-annaka Taraha (Sifat Shalat Nabi Mulai dari Takbir sampai Salamnya Seakan-akan Anda Melihatnya).


Pada kajian-kajian sebelumnya kita sudah menyelesaikan sifat shalat Nabi yang berkaitan dengan berdirinya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam sebelum rukuk. Dan kita akan teruskan pada kajian ini tentang rukuknya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam. 

Syaikh Albani rahimahullahu Ta’ala mengatakan dalam kitabnya, 

ثم كان ﷺ إذا فرغ من القراءة ثكت سكته، 

Kemudian, dahulu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam apabila Beliau selesai dari membaca surat (membaca surat setelah Al-Fatihah), Beliau diam sejenak.
Jadi tidak langsung rukuk, tapi Beliau diam sebentar. 

Kata Ibnul Qayyim rahimahullahu Ta’ala, kadar diamnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam di sini, itu sekadar seseorang beristirahat dari membaca surat. Jadi sekadar orang menormalkan kembali nafasnya; setelah dia membaca surat, berhenti, mengatur nafas, kemudian baru mengatakan “Allahu Akbar” untuk rukuk. 

ثم رفع يديه 

Kemudian Beliau mengangkat kedua tangannya, 

على الو جوه المتقد مة في ❲ تكبيرة الافتتاح ❳ 

Sesuai dengan cara-cara yang telah dipaparkan pada pembahasan tentang takbir pembuka, yaitu Takbiratul Ihram. 

Ada yang sejajar dengan pundak, ada yang sejajar dengan telinga. 

وكبر، وركع . 

Dan Beliau mengucapkan takbir dan rukuk. 

Inilah praktek Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam dari mulai setelah membaca surat sampai rukuknya. Yang sering ditinggalkan oleh para imam adalah berhenti sebentar sebelum membaca “Allahu Akbar” untuk rukuk. Ini seringkali ditinggalkan oleh para imam. Kita lihat, setelah membaca, langsung “Allahu Akbar”. Padahal yang disunnahkan adalah berhenti sebentar, mengatur nafasnya, baru setelah itu membaca “Allahu Akbar” dan rukuk. 

وأمر بها ❲ المسيء صلا ته ❳ فقال له : 

Dan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam memerintahkan kedua hal tersebut kepada orang yang tidak baik shalatnya, tidak benar shalatnya. Dan Beliau mengatakan, 

❲ إنها لا تتم صلاة أحدكم حتى يسبغ الوضوء كما أمره الله ❳ 

Sungguh tidak sempurna shalat salah seorang dari kalian sampai dia menyempurnakan wudhunya lebih dahulu, sebagaimana diperintahkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala. 

❲ ثم يكبر الله ❳ 

Kemudian membaca takbir. 

❲ ويحمده ويمجده ، ❳ 

Dan memuji Allah Subhanahu wa Ta’ala dan mengagungkannya. 

❲ ويقرأ ما تيسر من القر آن ❳ 

Dan dia membaca yang mudah baginya dari Al-Qur’an. 

❲ مما علمه الله و أذن له فيه ، ❳ 

Dari ayat-ayat yang diajarkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala kepadanya dan diizinkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala untuk dibaca. 

❲ ثم يكبر ❳ 
Kemudian bertakbir. 

Setelah membaca Al-Fatihah, membaca surat, kemudian bertakbir. 

❲ ويركع ، [ ويضع يديه على ر كبتيه] ❳ 

Dan hendaklah dia rukuk dan meletakkan kedua tangannya di atas kedua lututnya. 

❲ حتى تطمئن مفا صله و تستر خي.. ❳ 

Sampai sendi-sendinya tenang dan melemas. 

Jadi tangan ketika rukuk diletakkannya di lutut, bukan di paha dan bukan di bawah lutut. Kadang-kadang ada orang ketika rukuk tangannya diletakkan di bawah lutut, kadang-kadang diletakkan di paha. Yang benar adalah diletakkan tepat di atas lutut sampai tenang, terus semua persendiannya melemas. 

Lebih detail lagi: 
[ صِفَةُ الرُّ كُو عِ ] 

▫️Sifat atau Tata Cara Rukuk 

و ❲ كان ﷺ يضع كفيه على ركبتيه ❳ 

Dan dahulu Rasulullah Shallallahu ‘alahi wa Sallam ketika rukuk, Beliau meletakkan kedua telapak tangannya di atas kedua lututnya. 

و ❲ كان يأ مرهم بذلك ❳ ، 

Dan Beliau memerintahkan para sahabatnya untuk melakukan hal tersebut (meletakkan dua telapak tangannya di atas kedua lututnya). 

وأمر به أيضا ❲ المسيء صلا ته ❳ كما مر آنفا 

Dan Beliau juga memerintahkan hal tersebut kepada orang yang tidak benar shalatnya, sebagaimana telah lalu. 

و ❲ كان يمكن يديه من ركبتيه [ كأ نه قا بض عليهما ] ❳ 

Dan dahulu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam benar-benar menguatkan tangannya untuk memegang dua lututnya. 

Tidak hanya diletakkan, tapi dikuatkan. Benar-benar seperti orang memegang lutut. Seringkali orang hanya meletakkan tangannya di atas lututnya saja. Yang disunnahkan adalah lebih dari itu, yang seperti orang menggenggam lututnya. 

و ❲ كان يفر ج بين أصا بعه ❳ 

Dan Beliau, ketika menggenggam lututnya, Beliau merenggangkan jari-jemarinya. 

و أمر به ❲ المسيء صلاته ❳ 

Dan Beliau memerintahkan hal tersebut kepada orang yang tidak benar shalatnya. 

فقال : 
Beliau mengatakan, 

❲ إذا ركعت فضع راحتيك على ركبتيك ❳ 

Apabila engkau rukuk maka letakkanlah kedua telapak tanganmu di atas kedua lututmu. 

❲ ثم فرج بين أ صا بعك ❳ 

Kemudian renggangkan jari-jemarimu. 

❲ ثم امكث حتى يأخذ كل عضو مأ خذه ❳ 

Kemudian diamlah sampai seluruh anggota tubuhmu mengambil posisinya masing-masing (maksudnya tuma'ninah). 

Ini sifat yang sangat detail. Ini menunjukkan bagaimana para sahabat Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa Sallam benar-benar memperhatikan masalah shalat mereka, sampai bentuk posisi, jari-jemari disampaikan oleh mereka. 

Demikianlah yang bisa kita kaji pada kesempatan kali ini. Semoga menjadi ilmu yang bermanfaat dan diberkahi oleh Allah Jalla wa 'Ala. 

InsyaaAllah kita akan lanjutkan pada kesempatan yang akan datang. 

والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته


══════ ∴ |GiS| ∴ ══════   

📣 Official Account Grup Islam Sunnah  

📱 Fanpage: web.facebook.com/grupislamsunnah
📷 Instagram: instagram.com/grupislamsunnah
🌐 WebsiteGBS: grupbelanjasunnah.com
📧 Telegram: t.me/s/grupislamsunnah
🎥 YouTube: bit.ly/grupislamsunnah

Sabtu, 13 November 2021

Audio ke-85: Pembahasan Meminta Perlindungan kepada Allah dalam Shalat ketika Konsentrasi Terganggu

╔══❖•ೋ°📖° ೋ•❖══╗
                     Whatsapp              
         Grup Islam Sunnah | GiS
          *☛ Pertemuan ke-85*
╚══❖•ೋ°👥° ೋ•❖══╝ 

🌏 https://grupislamsunnah.com/ 

🗓 JUM'AT
        07 Rabi'uts Tsani 1443 H
        12 November 2021 M

👤  Oleh: Ustadz Dr. Musyaffa Ad Dariny M.A. حفظه الله تعالى 

📚    *Kitab Shifatu Sholatin Nabiyyi Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam Minattakbiri ilattaslim ka-annaka Taroha (Sifat Shalat Nabi mulai dari Takbir sampai Salamnya seakan-akan Anda Melihatnya) karya Asy Syekh Al-Albani -Rahimahullah.* 

💽  Audio ke-85: Pembahasan Meminta Perlindungan kepada Allah dalam Shalat ketika Konsentrasi Terganggu 

══════════════════    

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الحمد لله، والصلاة والسلام على رسول الله، وعلى آله وصحبه ومن تبع هداه 

Kaum muslimin dan kaum muslimat yang saya cintai karena Allah, khususnya anggota GiS -Grup Islam Sunnah- yang semoga dirahmati dan diberkahi oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala. 

Pada kesempatan yang berbahagia ini kita akan bersama-sama mengkaji sebuah kitab yang sangat bagus yang ditulis oleh Asy Syaikh Al Albani rahimahullah, yakni kitab Sifat Shalat Nabi atau sebagaimana judul aslinya Shifatu Shalatin Nabiyyi Shallallahu 'alaihi wa Sallam Minattakbiri ilattaslim Ka-annaka Taraha (Sifat Shalat Nabi Mulai dari Takbir sampai Salamnya Seakan-akan Anda Melihatnya).


Kita dalam pembahasan: Tentang taawudz (meminta perlindungan) kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala; ketika konsentrasi shalat kita terganggu, kita disunahkan untuk bertaawudz. 

Di antara cara kita bertaawudz adalah membaca, 

{ أَعُوذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ } 

Kemudian setelah itu meludah. Taful itu meludah dengan ludah yang ringan; ludah yang sedikit ke kiri. Jangan meludah ludahnya banyak, bahaya ini. Meludah,  tapi ludahnya itu sangat sedikit sekali. Ini "taful". 

Diriwayatkan dari sahabat Utsman ibn Abi Ash radhiallahu 'anhu, beliau pernah berkata kepada Nabi kita Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam, 

يارسول الله ! إن الشيطان قد حال بيني و بين صلاتي و قراء تي، يلبسها عليَّ؟ 

Wahai Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam! Sungguh syaitan telah menggangguku; menggangguku dalam shalatku, menggangguku dalam bacaanku. Aku tidak bisa konsentrasi dalam shalat, bahkan dalam membaca Al-Qur'an pun aku kesulitan karena diganggu oleh syaitan. 

فقال رسول الله ﷺ : ❲ ذاك شيطان ❳ 

Maka Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam mengatakan, "Itu adalah perbuatan syaitan." 

❲ يقال له: خِنْزِبٌ ❳ 

Itulah syaitan yang namanya Khinzib. 

Ada golongan-golongan syaitan; ada yang namanya seperti ini. Khinzib ini tugasnya khusus untuk mengganggu manusia ketika shalat agar mereka tidak bisa konsentrasi. Makanya ketika kita shalat itu kadang-kadang ada ide yang cemerlang. Kadang-kadang ada ide yang cemerlang ketika shalat. Subhanallah. 

Subhanallah. Setelah shalat kadang-kadang ide itu hilang lagi, lupa lagi. Ide-ide yang seperti itu digunakan oleh syaitan untuk mengganggu shalat kita. Jadi ini canggihnya syaitan ya, sudah beribu-ribu tahun menggoda manusia. Makanya caranya sangat licik sekali. 

Thullabul 'ilm (para penuntut ilmu) juga kadang-kadang dikasih faedah ilmu ketika shalat untuk menggoda konsentrasi dia. Inilah syaitan. Syaitan-syaitan yang seperti ini namanya Khinzib. 

Kadang-kadang sampai bacaan kita, kita pun tidak konsentrasi membaca Al-Qur'an. Konsentrasi kita ke mana gitu. Apalagi kalau jadi makmum; imamnya salam, baru ingat.. ihh kita sudah selesai shalat. Ditanya rakaat pertama baca surat apa? Tidak tahu. Padahal shalat dari takbiratul Ihram. Shalat bersama imam dari takbiratul ihram, ditanya imam rakaat pertama baca apa, rakaat kedua baca apa, tidak tahu. Karena konsentrasinya diambil oleh syaitan. 

Syaitan-syaitan yang seperti ini namanya Khinzib, sebagaimana disebutkan oleh Nabi kita Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam dalam hadits ini. 

❲ فإذا أحسسته فتعوذ با لله منه ❳ 

Apabila engkau merasakan kedatangannya, engkau merasa diganggu oleh dia, maka mintalah perlindungan kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala. Bartaawudz, 

{ أَعُوذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ }

❲ واتفُل على يسارك ثلاثا ❳ 

Dan meludahlah dengan ludah yang sedikit ke sisi kiri sebanyak 3 kali. 

Ustadz kalau shalat berjamaah bagaimana Ustadz? Apakah boleh demikian? 

Kita katakan, selama kita meludahnya tidak banyak ya insyaaAllah tidak mengganggu orang yang ada di sisi kiri kita. Tapi kalau misalnya dikhawatirkan itu mengganggu, maka tidak usah. Dikhawatirkan itu mengganggu, maka tidak perlu dilakukan karena mengganggu ini haram. Sedangkan meludah seperti ini, ini tidak wajib. Sehingga kita lebih mendahulukan yang wajib untuk kita tinggalkan dan meninggalkan sesuatu yang tidak wajib kita lakukan. 

Kalau shalat sendiri maka lakukanlah ini karena ini sesuatu yang diperintahkan oleh Nabi kita Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam dan ada pahalanya. Ini ibadah. Kita mengharapkan pahala dari Allah Subhanahu wa Ta'ala dengan mengamalkan amalan ini dan kita mengharapkan shalat kita menjadi lebih konsentrasi kembali. 

قال : ففعلت ذلك فأذهبه الله عني 

Sahabat Utsman ibn abi Ash kemudian mengatakan, "Maka aku lakukan hal itu sebagaimana diperintahkan oleh Nabi, maka Allah Subhanahu wa Ta'ala menghilangkan gangguan itu dariku." 

_____ 

Demikianlah yang bisa kita kaji pada kesempatan kali ini. Semoga menjadi ilmu yang bermanfaat dan diberkahi oleh Allah Jalla wa 'Ala. 

InsyaaAllah kita akan lanjutkan pada kesempatan yang akan datang. 

والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته


══════ ∴ |GiS| ∴ ══════   

📣 Official Account Grup Islam Sunnah  

📱 Fanpage: web.facebook.com/grupislamsunnah
📷 Instagram: instagram.com/grupislamsunnah
🌐 WebsiteGBS: grupbelanjasunnah.com
📧 Telegram: t.me/s/grupislamsunnah
🎥 YouTube: bit.ly/grupislamsunnah

Rabu, 10 November 2021

Audio ke-84: Pembahasan Mengoreksi Bacaan Imam ketika Salah dalam Membacanya

╔══❖•ೋ°📖° ೋ•❖══╗
                     Whatsapp              
         Grup Islam Sunnah | GiS
          *☛ Pertemuan ke-84*
╚══❖•ೋ°👥° ೋ•❖══╝ 

🌏 https://grupislamsunnah.com/ 

🗓 KAMIS
        06 Rabi'uts Tsani 1443 H
        11 November 2021 M

👤  Oleh: Ustadz Dr. Musyaffa Ad Dariny M.A. حفظه الله تعالى 

📚    *Kitab Shifatu Sholatin Nabiyyi Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam Minattakbiri ilattaslim ka-annaka Taroha (Sifat Shalat Nabi mulai dari Takbir sampai Salamnya seakan-akan Anda Melihatnya) karya Asy Syekh Al-Albani -Rahimahullah.* 

💽  Audio ke-84: Pembahasan Mengoreksi Bacaan Imam ketika Salah dalam Membacanya 

══════════════════    

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الحمد لله، والصلاة والسلام على رسول الله، وعلى آله وصحبه ومن تبع هداه 

Kaum muslimin dan kaum muslimat yang saya cintai karena Allah, khususnya anggota GiS -Grup Islam Sunnah- yang semoga dirahmati dan diberkahi oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala. 

Pada kesempatan yang berbahagia ini kita akan bersama-sama mengkaji sebuah kitab yang sangat bagus yang ditulis oleh Asy Syaikh Al Albani rahimahullah, yakni kitab Sifat Shalat Nabi atau sebagaimana judul aslinya Shifatu Shalatin Nabiyyi Shallallahu 'alaihi wa Sallam Minattakbiri ilattaslim Ka-annaka Taraha (Sifat Shalat Nabi Mulai dari Takbir sampai Salamnya Seakan-akan Anda Melihatnya).


Kita dalam pembahasan, 

[ الفَتحُ على الإمامِ ] 

"Meralat atau membetulkan bacaan Imam" 

Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam memberikan tuntunan kepada kita untuk meralat bacaan imam apabila bacaannya salah. Apabila bacaannya salah, kita diperintahkan untuk membetulkan bacaan imam. 

Ustadz, sudah dibetulkan, imamnya tidak mau. 
Ya ngalah, kalau misalnya imamnya tidak mau dibetulkan, ya sudah, biarkan. 

Anjuran yang dianjurkan kepada kita adalah membetulkannya. Tentang imamnya mau dibetulkan atau tidak, itu bukan urusan kita, itu urusannya imam. 

Dan kalau membetulkan, kita harus yakin dulu bahwa apa yang ada di pikiran kita itulah yang benar. Jangan ragu-ragu kemudian membetulkan, nantinya bisa jadi kita yang salah. Kalau kita masih ragu-ragu maka tidak usah. Kalau kita yakin bahwa itu kesalahan, maka kita betulkan. 

Kemudian Ustadz, kalau kita jauh bagaimana Ustadz? 

Ini juga harus diperhitungkan, harus  dilihat. Kalau kita jauh dan imam tidak akan mendengar suara kita, ya sudah, minimal kita benarkan dengan diri kita. Minimal kita luruskan dengan bacaan kita sendiri. Karena sudah tidak mungkin suara kita sampai ke imam dan orang-orang yang di belakangnya juga tidak meralat atau membetulkan bacaannya. Cukup dengan diri kita, itu yang kita mampui dan itu yang kita lakukan. 

Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam dahulu memberikan tuntunan kepada kita untuk meralat imam apabila bacaannya keliru. 

Pernah suatu ketika Beliau shalat dan membaca Al-Qur'an di dalamnya, namun ada kekeliruan dalam bacaan Beliau itu. Ini menunjukkan bahwa kadang-kadang Beliau juga salah dalam membaca Al-Qur'an. Ini manusiawi karena Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam seorang manusia, kadang-kadang lupa. 

Rasulullah pernah lupa di dalam shalatnya; harusnya 4 rakaat Beliau shalat 2 rakaat, setelah tasyahud awal Beliau salam. 

Makanya ada hadits yang terkenal dengan Hadits Dzul Yadain. Haditsnya orang yang dua tangannya panjang, karena ini orangnya tidak wajar tangannya. Tangannya panjang. Ada yang bilang tangannya sampai lutut kalau berdiri, sehingga terkenal dengan julukan ini, Dzul Yadain (dua tangannya panjang). Dan ini menunjukkan bahwa kita boleh menyebutkan kekurangan fisik seseorang, karena untuk mempermudah orang lain mengenali orang yang kita maksud tanpa bermaksud merendahkan atau mencela. Nyatanya ada julukan-julukan dari para ulama Salaf dengan kekurangan fisik seperti ini. 

Rasulullah pernah lupa di rakaat kedua tasyahud, Beliau salam. Akhirnya Dzul Yadain ini bertanya kepada Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam. Bayangkan, ini para sahabat sudah salam semuanya, mereka tidak berani bertanya atau menegur Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam. Ada sahabat Abu Bakar di sana, ada sahabat Umar, ada sahabat-sahabat besar di sana radhiallahu anhum ajma'in. Tidak ada yang berani menegur Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam. 

Akhirnya datanglah sahabat Dzul Yadain ini bertanya kepada Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam, "Wahai Rasulullah, shalatnya sekarang diringkas apa engkau lupa? Shalat sekarang menjadi dua rakaat atau sebenarnya engkau lupa?" 

Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam mengatakan, "Shalatnya tidak diringkas, dan aku tidak lupa." 

Rasulullah mengatakan demikian. Rasulullah tidak sadar kalau Beliau lupa. Setelah itu Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam ragu, akhirnya bertanya kepada sahabat-sahabatnya yang besar-besar tadi, yang ma'ruf, selalu di sekitar Beliau, "Apakah benar apa yang dikatakan oleh Dzul Yadain?" 

Maka mereka mengatakan, "Iya benar, wahai Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam." 

Ini bercakap-cakap semua. Setelah itu apa yang dilakukan Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam? Rasulullah berdiri lagi. Rasulullah tidak mengulang shalat dari awal. Rasulullah berdiri lagi meneruskan shalatnya. 

Ini menunjukkan bahwa apabila kita lupa dalam shalat, kemudian kita diingatkan, "eh, baru dua rakaat antum", 
"iya lho baru dua rakaat ya?" 
Walaupun ada percakapan seperti ini, tidak masalah. Kita tetap teruskan sebagaimana dicontohkan oleh Nabi kita Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam. Kemudian nanti setelah itu sujud sahwi. 

Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam adalah manusia seperti kita dan manusia itu tempat lupa. Sehingga Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam juga beberapa kali lupa. 

Seperti hadits kita ini juga, Rasulullah membaca Al-Qur'an dan bacaannya salah. Ketika bacaannya salah, para sahabat tidak ada yang berani membenarkan. Ini akhlaknya para sahabat Nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam. Akhlak. 

Beliau salah dan di situ ada sahabat Ubay ibn Ka'ab yang hafal Al-Qur'an dan tahu kalau Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam salah bacaannya. Tapi sahabat Ubay Ibn Ka'ab tidak berani menegur karena penghormatan beliau yang sangat tinggi kepada Rasulullah Shallallahu' alaihi wa sallam. Setelah shalat, Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam mengatakan kepada sahabat Ubay Ibn Ka'ab, 

❲ أصليت معنا ؟ ❳ 

"Wahai sahabat Ubay, apakah engkau shalat bersamaku tadi?" 

Rasulullah tahu kalau sahabat Ubay ini bersama Rasulullah dalam shalatnya. Bertanya untuk menarik perhatian agar sahabatnya fokus dan memperhatikan benar-benar apa yang ingin dikatakan oleh Nabi kita Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam. 

Sahabat Ubay mengatakan, "Iya aku shalat bersamamu wahai Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam." 

Rasulullah mengatakan, 

❲ فما منعك [ أن تفتح عليَّ؟ ] ❳ 

"Apa yang menghalangimu untuk membenarkan atau membetulkan bacaanku?" 

Ini menunjukkan bahwa Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam tidak senang apabila bacaannya salah kemudian dibiarkan. Rasulullah senang apabila diralat bacaannya kalau memang bacaan tersebut salah. 

Kita juga demikian di dalam shalat. Kalau imamnya salah dan kita tahu itu kesalahan maka ingatkan imamnya, jangan takut shalatnya batal. Karena memang ada sebagian mazhab -saya tidak perlu menyebut mazhabnya- ada disebutkan dalam kitab-kitab fiqih. Ada yang mengatakan, kalau niatnya mengingatkan imam maka batal shalatnya. Dan ini tidak sesuai dengan dalil-dalil yang ada. Mungkin mereka memasukkannya ke dalam perkataan manusia, ini seperti bercakap-cakap. Mungkin dalilnya seperti itu, tapi dalil itu lemah apabila dibandingkan dengan dalil yang ada. 

Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam memerintahkan. Memerintahkan untuk meralat bacaan imam yang salah. Dan bagaimana kita meralat bacaan imam, kemudian kita tidak punya niat untuk mengingatkan imam. Ini sesuatu yang sulit. Mereka mengatakan, kalau mengingatkan imam niatkanlah untuk berdzikir; jangan niat mengingatkan imam. Ini sulit, ini sesuatu yang tidak wajar dan ini perlu dalil seperti ini. 

Kalau Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam memerintahkan kepada sahabatnya untuk mengingatkan Beliau apabila bacaannya salah, tentunya ada niat untuk mengingatkan. Kalau kita mengatakan, "Tidak boleh niatnya mengingatkan. Niatnya itu harus berdzikir kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala". Ini perlu dalil. Perlu dalil khusus dan mana dalilnya.

_____ 

Demikianlah yang bisa kita kaji pada kesempatan kali ini. Semoga menjadi ilmu yang bermanfaat dan diberkahi oleh Allah Jalla wa 'Ala. 

InsyaaAllah kita akan lanjutkan pada kesempatan yang akan datang. 

والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته


══════ ∴ |GiS| ∴ ══════   

📣 Official Account Grup Islam Sunnah  

📱 Fanpage: web.facebook.com/grupislamsunnah
📷 Instagram: instagram.com/grupislamsunnah
🌐 WebsiteGBS: grupbelanjasunnah.com
📧 Telegram: t.me/s/grupislamsunnah
🎥 YouTube: bit.ly/grupislamsunnah