Selasa, 14 September 2021

Audio ke-43 : Pembahasan Doa Istiftah ~ Macam Doa Istiftah Keenam dan Ketujuh

╔══❖•ೋ°📖° ೋ•❖══╗
                    Whatsapp              
       Grup Islam Sunnah | GiS
           ☛ Pertemuan ke-43
╚══❖•ೋ°👥° ೋ•❖══╝

🌏 https://grupislamsunnah.com/

🗓 Rabu
         08 Shafar 1443 H
         15 September 2021 M

👤  Oleh: Ustadz Dr. Musyaffa Ad Dariny M.A. حفظه الله تعالى

📚    Kitab Shifatu Sholatin Nabiyyi Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam Minattakbiri ilattaslim ka-annaka taroha (Sifat Shalat Nabi mulai dari takbir sampai salamnya seakan-akan Anda melihatnya) karya Asy Syekh Al-Albani -Rahimahullah.

💽   Audio ke-43 : Pembahasan Doa Istiftah ~ Macam Doa Istiftah Keenam dan Ketujuh
═══════════════════    

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الحمد لله، والصلاة والسلام على رسول الله، وعلى آله وصحبه ومن تبع هداه 

Kaum muslimin dan kaum muslimat yang saya cintai karena Allah, khususnya anggota GiS -Grup Islam Sunnah- yang semoga dirahmati dan diberkahi oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala. 

Pada kesempatan yang berbahagia ini kita akan bersama-sama mengkaji sebuah kitab yang sangat bagus yang ditulis oleh Asy Syaikh Al Albani rahimahullah, yakni kitab Sifat Shalat Nabi atau sebagaimana judul aslinya Shifatu Shalatin Nabiyyi Shalallahu 'Alaihi wa Sallam Minattakbiri ilattaslim Ka-annaka Taraha (Sifat Shalat Nabi Mulai dari Takbir sampai Salamnya Seakan-akan Anda Melihatnya). 

Kita sampai pada pembahasan doa-doa istiftah. 

Doa istiftah yang keenam yaitu dengan membaca: 

سُبْحَانَكَ اللهُمَّ وَبِحَمْدِكَ، تَبَارَكَ اسْمُكَ، وَتَعَالَى جَدُّكَ، وَلَا إِلَهَ غَيْرُكَ 

_"Maha Suci Engkau ya Allah, aku memujiMu, Maha Berkah akan nama-Mu, Maha Tinggi kekayaan dan kebesaranMu, tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Engkau semata-mata."_ 

kemudian menambahinya dengan: 

لَا إِلهَ إِلَّا الله  3x

_"Tidak ada sesembahan yang berhak disembah kecuali Allah"_ 

اللهُ أَكْبَرُ كَبِيْرًا  3x 

_"Allah Maha Agung lagi Maha Besar"_ 

Ini doa istiftah yang keenam. 

7. Doa istiftah yang ketujuh: 

اللهُ أَكْبَرُ كَبِيرًا، وَالْحَمْدُ لِله كَثِيرًا، وَسُبْحَانَ اللهِ بُكْرَةً وَأَصِيلًا 

_"Allah Maha Agung lagi Maha Besar, segala puji yang begitu banyak hanya milik Allah, Mahasuci Allah pada pagi hari dan sore hari."_ 

Ini juga sangat singkat, namun ini juga mempunyai keutamaan khusus yang disebutkan oleh Rasulullah shalallahu 'alaihi wa sallam, bahwa pernah salah seorang sahabat membuka shalatnya dengan doa istiftah ini dan Rasulullah shalallahu 'alaihi wa sallam mengatakan kepadanya: 

(( عَجِبْتُ لَهَا فُتِحَتْ لَهَا أَبْوَابُ السَّمَاءِ )) 

"Saya kagum dengan doa tersebut karena langit-langit atau pintu-pintu langit dibuka untuknya." 

Pintu-pintu langit dibuka ketika orang tersebut membaca doa istiftah ini. 

اللهُ أَكْبَرُ كَبِيرًا، وَالْحَمْدُ لِله كَثِيرًا،
 وَسُبْحَانَ اللهِ بُكْرَةً وَأَصِيلًا 

Ini doa istiftah yang sangat ringkas dan keutamaannya sangat besar. Ada sebagian orang yang mengatakan hadits ini menunjukkan bahwa kita boleh melakukan bid'ah karena terlihat sahabat ini seperti membuat doa istiftah sendiri dan Rasulullah shalallahu 'alaihi wa sallam membolehkannya. Makanya Rasulullah heran ada pintu langit dibuka. 

Orang tersebut mengatakan demikian. Ketika seorang sahabat dibolehkan oleh Rasulullah shalallahu 'alaihi wa sallam membuat-buat doa istiftah sendiri, berarti boleh melakukan bid'ah, berarti sebagian bid'ah ada yang hasanah. 

Ada juga berdalil dengan hadits lain, mengatakan: Di antara dalil adanya bid'ah hasanah adalah perbuatan sahabat Bilal. Ketika Rasulullah shalallahu 'alaihi wa sallam bertanya kepadanya, "Wahai Bilal, aku tadi malam mendengar suara sandalmu di surga, apa yang engkau lakukan?" Kemudian sahabat Bilal mengatakan, "Tidaklah aku berwudhu kecuali setelah itu aku shalat dua rakaat". 

Dia mengatakan, berarti Rasulullah shalallahu 'alaihi wa sallam tidak tahu ibadah yang dilakukan oleh Bilal ini. Berarti Bilal membuat-buat ibadah sendiri tapi Rasulullah tidak mengingkarinya. Berarti ini menunjukkan bahwa boleh melakukan ibadah-ibadah dengan kreasi sendiri sehingga ada bid'ah yang hasanah. 

Ia juga mengatakan bahwa ada salah seorang sahabat yang setiap shalatnya menutup bacaan suratnya dengan { قُلْ هُوَ اللهُ أَحَد }

kemudian diingkari oleh sahabat yang lainnya dan dilaporkan/diadukan kepada Rasulullah shalallahu 'alaihi wa sallam. Kemudian Rasulullah shalallahu 'alaihi wa sallam mengatakan kepada orang yang mengadu ini, "Panggil dia dan tanya kenapa dia melakukan hal tersebut". Sahabat tersebut mengatakan, "Karena aku mencintai Allah Subhanahu wa Ta'ala dan di surat tersebut dari awal sampai akhir menjelaskan tentang Allah Subhanahu wa Ta'ala". 

Surat Al-ikhlas dari awal sampai akhir menjelaskan tentang Allah Subhanahu wa Ta'ala. Maka Rasulullah shalallahu 'alaihi wa sallam ketika itu mengatakan, "Katakan kepadanya bahwa Allah juga mencintai dia". Dia mengatakan perbuatan ini adalah kebaikan, tidak diketahui oleh nabi Muhammad shalallahu 'alaihi wa sallam dan Beliau akhirnya menyetujuinya. Berarti menunjukkan bahwa boleh bagi kita berkreasi dalam ibadah, berarti ada bid'ah hasanah di sana. 

Kemudian membawakan banyak sekali atsar-atsar, ini semuanya syubhat, dan setiap dalilnya bisa dijawab. Bisa dijawab dengan kaidah yang jelas bahwa para sahabat itu mempunyai keistimewaan melebihi yang lainnya karena mereka hidup bersama nabi kita Muhammad shalallahu 'alaihi wa sallam. 

Ketika mereka hidup bersama Rasulullah shalallahu 'alaihi wa sallam maka Rasulullah shalallahu 'alaihi wa sallam ada kemungkinan menyetujuinya, ada kemungkinan mengingkarinya. 
Sehingga ketika ada ijtihad-ijtihad dari sebagian sahabat, melakukan sesuatu yang mungkin tidak lazim ketika itu, bukan berarti semua yang dilakukan mereka benar. Tapi kebenarannya menunggu persetujuan dari nabi kita Muhammad shalallahu 'alaihi wa sallam. 

Makanya ada sebagian dari sahabat yang lain mereka juga berijtihad untuk melakukan ibadah, tapi akhirnya dilarang oleh nabi kita Muhammad shalallahu 'alaihi wa sallam. Ada yang berijtihad dengan tayammum. Tayammumnya bagaimana? Masuk ke pasir, semuanya dikenai pasir di dalam tubuhnya semuanya, karena tidak tahu caranya/bagaimana caranya bertayammum untuk mensucikan dirinya dari hadats besar. 
Akhirnya dia berijtihad sendiri dengan bertayammum dan bertayammumnya menjadikan pasir tersebut mengenai semua jasadnya sebagaimana ketika mandi besar dia harus menjadikan air mengenai semua jasadnya. Diingkari oleh nabi Muhammad shalallahu 'alaihi wa sallam. 

Begitu pula tiga orang yang datang ke rumah nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam; yang satunya ingin shalat semalam suntuk, yang satunya ingin puasa selama-lamanya, yang satunya ingin fokus ibadah dan tidak mau menikah. Diingkari oleh nabi Muhammad shalallahu 'alaihi wa sallam ijtihadnya dan mengatakan: 

(( فَمَنْ رَغِبَ عَنْ سُنَّتِي فَلَيْسَ مِنِّي )) 

"Barang siapa yang benci kepada sunnahku, kepada tuntunanku, maka dia bukan dari golonganku". 

Diingkari oleh nabi kita Muhammad shalallahu 'alaihi wa sallam. 

Ada seorang sahabat yang lain ingin fokus ibadah sehingga dia ingin menghilangkan syahwatnya dengan memotong dzakarnya "tabattul" namanya, agar tidak punya syahwat sehingga bisa fokus ibadah. Dilarang oleh nabi kita Muhammad shalallahu 'alaihi wa sallam. 

Sehingga ijtihad dalam masalah ibadah ini adalah kekhususan para sahabat. 
Kenapa menjadi kekhususan para sahabat? 
Karena ketika itu masih ada Rasulullah shalallahu 'alaihi wa sallam, sebagaimana meminta doa kepada Rasulullah. Ini kekhususan para sahabat ketika Rasulullah masih hidup. 

Adapun kita sekarang, tidak memungkinkan hal tersebut. 
Boleh tidak seorang sahabat pergi ke Rasulullah untuk meminta doa? Boleh, karena Rasulullah masih hidup ketika itu.
Tapi kita sekarang tidak memungkinkan lagi untuk melakukan hal yang sama karena keadaannya memang lain. 

Begitu pula ijtihad-ijtihadnya para sahabat tersebut, memang dibolehkan. Kenapa dibolehkan? Karena hal tersebut masih memungkinkan; karena adanya Rasulullah shalallahu 'alaihi wa sallam di tengah-tengah mereka, yang dengan Beliau seseorang bisa tahu apakah amalannya benar ataukah amalannya salah karena persetujuan atau pengingkaran nabi kita Muhammad shalallahu 'alaihi wa sallam. 

Sehingga jangan disamakan antara kita dengan para sahabat karena keadaan yang berbeda. Syubhatnya seperti itu. Ini di antara syubhat yang mungkin kuat, dipandang kuat bagi sebagian orang untuk membolehkan bid'ah hasanah. Tapi sebenarnya syubhat ini syubhat yang lemah. Syubhat ini intinya menyamakan antara kita dengan sahabat nabi Muhammad shalallahu 'alaihi wa sallam. 

Kemudian setelah itu kalau sahabat Rasulullah boleh melakukan ijtihad-ijtihad yang demikian, berarti kita juga boleh melakukan ijtihad-ijtihad yang demikian. 
Kita katakan ada perbedaan yang sangat mendasar. Kalau para sahabat nabi Muhammad salallahu 'alaihi wasallam, mereka ada Rasulullah salallahu alaihi wasallam yang bisa membenarkan dan menyalahkan mereka, sedangkan kita tidak demikian, tidak ada Rasulullah salallahu 'alaihi wa sallam. 

Dan Rasulullah sudah memberikan kaidah kepada kita dengan kaidah yang sangat umum, 

(( وَإِيَاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ الأُمُوْرِ )) 

"Jauhilah oleh kalian perkara-perkara baru dalam agama"

Dalam hadits yang lain Rasulullah shalallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

(( مَنْ عَمِلَ عَمَلًا لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ )) 

"Barangsiapa yang melakukan amalan yang tidak sesuai dengan tuntunan kami, maka amalan tersebut ditolak" 

Mudah-mudahan bisa dipahami dengan baik. 

Demikianlah yang bisa kita kaji pada kesempatan kali ini. Semoga  menjadi ilmu yang bermanfaat dan diberkahi oleh Allah Jalla wa 'Alaa. 

InsyaaAllah kita akan lanjutkan pada kesempatan yang akan datang. 

والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته 

══════ ∴ |GiS| ∴ ══════  

📣 Official Account Grup Islam Sunnah 

📱 Fanpage: web.facebook.com/grupislamsunnah
📷 Instagram: instagram.com/grupislamsunnah
🌐 WebsiteGBS: grupbelanjasunnah.com
📧 Telegram: t.me/s/grupislamsunnah
🎥 YouTube: bit.ly/grupislamsunnah

Senin, 13 September 2021

Audio ke-42 : Pembahasan Doa Istiftah ~ Macam Doa Istiftah Kesatu sampai Kelima

╔══❖•ೋ°📖° ೋ•❖══╗
                    Whatsapp              
       Grup Islam Sunnah | GiS
           ☛ Pertemuan ke-42
╚══❖•ೋ°👥° ೋ•❖══╝

🌏 https://grupislamsunnah.com/

🗓  SELASA
         07 Shafar 1443 H
         14 September 2021 M

👤  Oleh: Ustadz Dr. Musyaffa Ad Dariny M.A. حفظه الله تعالى

📚  Kitab Shifatu Sholatin Nabiyyi Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam Minattakbiri ilattaslim ka-annaka taroha (Sifat Shalat Nabi mulai dari takbir sampai salamnya seakan-akan Anda melihatnya) karya Asy Syekh Al-Albani -Rahimahullah.

💽   Audio ke-42 : Pembahasan Doa Istiftah ~ Macam Doa Istiftah Kesatu sampai Kelima 

═══════════════════    

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الحمد لله، والصلاة والسلام على رسول الله، وعلى آله وصحبه ومن تبع هداه 

Kaum muslimin dan kaum muslimat yang saya cintai karena Allah, khususnya anggota GiS -Grup Islam Sunnah- yang semoga dirahmati dan diberkahi oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala. 

Pada kesempatan yang berbahagia ini kita akan bersama-sama mengkaji sebuah kitab yang sangat bagus yang ditulis oleh Asy Syaikh Al Albani rahimahullah, yakni kitab Sifat Shalat Nabi atau sebagaimana judul aslinya Shifatu Shalatin Nabiyyi Shalallahu 'Alaihi wa Sallam Minattakbiri ilattaslim Ka-annaka Taraha (Sifat Shalat Nabi Mulai dari Takbir sampai Salamnya Seakan-akan Anda Melihatnya). 

Kita sampai pada pembahasan doa-doa istiftah. 

Syaikh Albani rahimahullah mengatakan: 

و كان يقرأ تارة بهذا و تارة بهذا 

Dan Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa sallam dahulu kadang-kadang membaca yang ini, kadang-kadang membaca yang ini. 

فكان يقول 

dan beliau biasa membaca: 

اللَّهُمَّ بَاعِدْ بَيْنِي وَبَيْنَ خَطَايَايَ كَمَا بَاعَدْتَ بَيْنَ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ 

_"Ya Allah, jauhkanlah antara aku dan kesalahan-kesalahanku, sebagaimana Engkau menjauhkan antara timur dan barat."_ 

1) Ini doa istiftah yang pertama. 
Doa istiftah jenis yang pertama. Kita bisa membaca doa istiftah ini. 

Syaikh Albani di sini menyebutkan ada 12 macam doa istiftah. Yang beliau sebutkan pertama adalah doa ini: 

اللَّهُمَّ بَاعِدْ بَيْنِي وَبَيْنَ خَطَايَايَ كَمَا بَاعَدْتَ بَيْنَ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ , اللَّهُمَّ نَقِّنِي مِنْ خَطَايَايَ كَمَا يُنَقَّى الثَّوْبُ الْأَبْيَضُ مِنْ الدَّنَسِ اللَّهُمَّ اغْسِلْنِي مِنْ خَطَايَايَ بِالْمَاءِ وَالثَّلْجِ وَالْبَرَدِ 

_"Ya Allah, jauhkanlah antara aku dan kesalahan-kesalahanku, sebagaimana Engkau menjauhkan antara timur dan barat. Ya Allah, bersihkanlah aku dari kesalahan-kesalahanku sebagaimana baju putih dibersihkan dari kotoran. Ya Allah, cucilah aku dari kesalahan-kesalahanku dengan air, salju dan embun.”_ 

Ini di antara salah satu dari macam doa istiftah yang pernah dibaca oleh nabi kita Muhammad Shalallahu 'alaihi wa sallam. 

2) Ada juga doa istiftah yang kedua yang disebutkan oleh Syekh Albani rahimahullah dan ini doa panjang. 

وَجَّهْتُ وَجْهِيَ لِلَّذِي فَطَرَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ حَنِيفًامُسْلِمَا ، وَمَا أَنَا مِنَ الْمُشْرِكِينَ، إِنَّ صَلَاتِي، وَنُسُكِي، وَمَحْيَايَ، وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، لَا شَرِيكَ لَهُ، وَبِذَلِكَ أُمِرْتُ وَأَنَا أوَّلُ الْمُسْلِمِينَ، اللهُمَّ أَنْتَ الْمَلِكُ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ سُبْحَانَكَ وَ بِحَمْدِكَ أَنْتَ رَبِّي، وَأَنَا عَبْدُكَ، ظَلَمْتُ نَفْسِي، وَاعْتَرَفْتُ بِذَنْبِي، فَاغْفِرْ لِي ذَنْبِي جَمِيعًا، إِنَّهُ لَا يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلَّا أَنْتَ، وَاهْدِنِي لِأَحْسَنِ الْأَخْلَاقِ لَا يَهْدِي لِأَحْسَنِهَا إِلَّا أَنْتَ، وَاصْرِفْ عَنِّي سَيِّئَهَا لَا يَصْرِفُ عَنِّي سَيِّئَهَا إِلَّا أَنْتَ، لَبَّيْكَ وَسَعْدَيْكَ وَالْخَيْرُ كُلُّهُ فِي يَدَيْكَ، وَالشَّرُّ لَيْسَ إِلَيْكَ، وَالْمَهْدِيُّ مَنْ هَدَيْتَ أنا بِكَ و إلَيْك لا مَنْجَا مِنْكَ إلاَّ إلَيْكَ، تَبَارَكْتَ وَتَعَالَيْتَ، أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ إِلَيْكَ 

Ini doa istiftah yang lumayan panjang dan ini Beliau baca kadang-kadang di shalat fardhu. Dan Beliau membaca ini juga di shalat sunahnya. Tapi jarang sekali Rasulullah Shalallahu 'alaihi wa sallam membaca doa istiftah yang panjang di dalam shalat fardhu-nya. Makanya sahabat Abu Hurairah pernah bertanya kepada beliau: Apa yang engkau baca di diammu yang sebentar sebelum bacaan Al-Fatihah? Kemudian Rasulullah Shalallahu 'alaihi wa sallam menjawabnya dengan "doa istiftah". 

Sahabat Abu Hurairah menyebut diam yang sebentar "Hunaihah", dan katanya diam yang sebentar. Ini menunjukkan bahwa kebiasaan Nabi Muhammad Shalallahu 'alaihi wa sallam ketika shalat fardhu membaca istiftahnya sebentar. Adapun seperti doa yang ini, yang panjang ini, ini kadang-kadang saja dan ini jarang. 

3) Kemudian yang ketiga, doa istiftah jenis yang ketiga, macam yang ketiga, adalah doa yang sama dengan doa tadi, tapi sampai sebelum bacaan [ أنت ربي ] sama dengan bacaan seperti di atas, hanya saja tanpa penggalan [ أنت ربي ] .
Jadi penggalan [ أنت ربي ] seterusnya tidak dibaca oleh Beliau. 

Riwayatnya sampai:

[ اللهم أنت المالك لا إله إلا أنت سبحانك و بحمدك ] 

Sampai lafal itu saja. Kalau yang tadi dibaca sampai akhir. Kalau riwayat yang ini dibaca sampai:
 
اللهم أنت المالك لا إله إلا أنت سبحانك و بحمدك 

Ini jenis yang ketiga. 

4) Doa istiftah keempat yang pernah dibaca oleh nabi kita Muhammad Shalallahu 'alaihi wa sallam adalah doa: 

وَجَّهْتُ وَجْهِيَ لِلَّذِي فَطَرَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ حَنِيفًامُسْلِمَا، وَمَا أَنَا مِنَ الْمُشْرِكِينَ، 

sampai [ وأنا أول المسلمين ] kemudian menambahinya dengan: 

اللَّهُمَّ اهْدِنِي لِأَحْسَنِ الْأَخْلَاقِ لَا يَهْدِي لِأَحْسَنِهَا إِلَّا أَنْتَ، 
و قِنِي سَيِّءَ الأخْلاَق و الأعْمال لا يَقِي سَيِّئَها إلاَّ أَنْتَ 

Ini doa istiftah yang keempat. 

Jadi seperti doa istiftah yang kedua, hanya saja sampai [ و أنا أول المسلمين ] setelah itu ditambahi dengan bacaan ini: 

اللَّهُمَّ اهْدِنِي لأَِحْسَنِ الأَخْلاَق 

sampai akhir tadi. 

5) Kemudian doa istiftah yang kelima adalah doa istiftah yang ringkas: 

سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ، وَتَبَارَكَ اسْمُكَ، وَتَعَالَى جَدُّكَ، وَلاَ إِلَـٰهَ غَيْرُكَ 

_"Maha Suci Engkau ya Allah, aku memujiMu, Maha Berkah akan nama-Mu, Maha Tinggi kekayaan dan kebesaranMu, tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Engkau semata-mata."_ 

Ini sangat singkat, dan sering dibaca oleh sahabat Umar Ibnu Khattab radhiyallahu anhu. 
Terhadap doa ini Rasulullah Shalallahu 'alaihi wa sallam mengatakan: 

إنَّ الأحَبَّ الكَلامِ إلى الله أن يَكُول العَبْدُ سُبْحَنَكَ اللَّهُمَّ .... sampai akhir

Sesungguhnya perkataan yang paling dicintai oleh Allah subhanahu wa ta'ala adalah ketika seorang hamba mengatakan: 

سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ، وَتَبَارَكَ اسْمُكَ، وَتَعَالَى جَدُّكَ، وَلاَ إِلَـٰهَ غَيْرُكَ 

Ini menunjukkan bahwa doa istiftah ini sangat besar keutamaannya, karena dikatakan oleh nabi kita Muhammad Shalallahu 'alaihi wa sallam: dzikir yang paling dicintai oleh Allah Subhanahu Wa Ta'ala. 

Demikianlah yang bisa kita kaji pada kesempatan kali ini. Semoga  menjadi ilmu yang bermanfaat dan diberkahi oleh Allah Jalla wa 'Alaa. 

InsyaaAllah kita akan lanjutkan pada kesempatan yang akan datang. 

والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته 

══════ ∴ |GiS| ∴ ══════  

📣 Official Account Grup Islam Sunnah 

📱 Fanpage: web.facebook.com/grupislamsunnah
📷 Instagram: instagram.com/grupislamsunnah
🌐 WebsiteGBS: grupbelanjasunnah.com
📧 Telegram: t.me/s/grupislamsunnah
🎥 YouTube: bit.ly/grupislamsunnah

Minggu, 12 September 2021

Audio ke-41: Pembahasan Doa Istiftah ~ Mukadimah

GiS | BANK MATERI:
╔══❖•ೋ°📖° ೋ•❖══╗
                    Whatsapp              
       Grup Islam Sunnah | GiS
           ☛ Pertemuan ke-41
╚══❖•ೋ°👥° ೋ•❖══╝ 

🌏 https://grupislamsunnah.com/

🗓  SENIN
         06 Shafar 1443 H
         13 September 2021 M 

👤  Oleh: Ustadz Dr. Musyaffa Ad Dariny M.A. حفظه الله تعالى 

📚   Kitab Shifatu Sholatin Nabiyyi Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam Minattakbiri ilattaslim ka-annaka taroha (Sifat Shalat Nabi mulai dari takbir sampai salamnya seakan-akan Anda melihatnya) karya Asy Syekh Al-Albani -Rahimahullah.

💽   Audio ke-41: Pembahasan Doa Istiftah ~ Mukadimah 

═══════════════════    

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الحمد لله، والصلاة والسلام على رسول الله، وعلى آله وصحبه ومن تبع هداه 

Kaum muslimin dan kaum muslimat yang saya cintai karena Allah, khususnya anggota GiS -Grup Islam Sunnah- yang semoga dirahmati dan diberkahi oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala. 

Pada kesempatan yang berbahagia ini kita akan bersama-sama mengkaji sebuah kitab yang sangat bagus yang ditulis oleh Asy Syaikh Al Albani rahimahullah, yakni kitab Sifat Shalat Nabi atau sebagaimana judul aslinya Shifatu Shalatin Nabiyyi Shalallahu 'Alaihi wa Sallam Minattakbiri ilattaslim Ka-annaka Taraha (Sifat Shalat Nabi Mulai dari Takbir sampai Salamnya Seakan-akan Anda Melihatnya). 

Kita sampai pada pembahasan Doa-doa Istiftah. 

Doa istiftah adalah doa atau dzikir pembuka sholat kita. Dan doa istiftah ini banyak sekali variasinya karena banyaknya riwayat yang menjelaskan tentang doa istiftah ini. Dan semua riwayat tersebut asalkan shahih bisa diterima, boleh dilakukan. Dan yang paling afdal bagi seseorang adalah membaca doa tersebut dengan bergantian; kadang di sholat ini membaca doa istiftah yang ini, kemudian di sholat lain membaca doa istiftah yang lain. Kita variasikan doa istiftah kita agar kita bisa menjaga sunnah tersebut semuanya. Jadi tidak hanya hafal 1 doa istiftah, tapi bisa hafal semuanya dan kita praktekkan semuanya. Yaitu caranya dengan: kadang-kadang membaca yang ini, kadang-kadang baca yang itu. Ini yang paling afdal. 

Para ulama khilaf tentang apakah boleh menggabung dua doa istiftah -misalnya, atau lebih dari satu doa istiftah dalam satu shalat. Ini para ulama khilaf, ada yang mengatakan boleh seperti Imam Nawawi rahimahullah. Beliau membolehkan hal tersebut selama waktunya memungkinkan, misalnya ketika kita sedang menjadi makmum. Makmum membaca doa istiftah sebentar, kemudian setelah itu membaca Al-Fatihah. Ketika keadaannya demikian berarti tidak memungkinkan bagi kita untuk membaca doa istiftah yang panjang misalnya, atau doa istiftah yang pendek tapi digabungkan; tidak memungkinkan karena waktunya sekarang sudah waktu untuk mendengarkan bacaan imam. 

{ وَإِذَا قُرِئَ ٱلۡقُرۡآنُ فَٱسۡتَمِعُوا۟ لَهُۥ وَأَنصِتُوا۟ } 

"Apabila Al-Qur'an dibaca maka dengarkanlah dan diamlah" 

Sehingga ketika imam sudah membaca Al-Fatihah, kita meninggalkan doa istiftah kita. Ini yang sesuai dengan sunnah. 

Adapun misalnya ketika shalat sendirian dan kita ingin shalat kita panjang, padahal kita tidak hafal doa istiftah yang panjang, kita bisa menggabungkan doa istiftah yang pendek-pendek sehingga bisa menjadi panjang doa istiftah kita. 

Ini pendapat Imam Nawawi rahimahullah dan ini pendapat yang kuat. Apabila dimungkinkan untuk membaca lebih dari satu doa istiftah maka dibolehkan, sebagaimana kita boleh menggabung doa-doa yang lain atau dzikir-dzikir yang lain. Misalnya rukuk kita membaca 

سُبْحَانَ رَبِّىَ الْعَظِيمِ  3x 

Kemudian kita membaca doa yang lain -misalnya, apabila waktunya masih memungkinkan, dengan membaca doa 

سُبحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ، اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي 

Boleh digabung apabila waktunya memungkinkan. 

Kalau waktunya tidak memungkinkan maka satu dzikir atau satu macam doa sudah cukup. Misalnya sebagai imam, Rasulullah shalallahu 'alaihi wa sallam ketika mengimami manusia, mengimani para sahabatnya, beliau tidak pernah membaca doa istiftah yang panjang, doa istiftah-nya pendek-pendek. 

Doa istiftah beliau menjadi panjang ketika sholat malam. Karena shalat malamnya Beliau memang panjang, sehingga Beliau memperpanjang doa istiftah-nya juga. 

Apabila keadaannya demikian, maka kita sesuaikan dengan shalat kita. 
Kalau shalatnya shalat fardhu dan kita jadi imam dan Rasulullah mencontohkannya dengan doa istiftah yang pendek, kita baca yang pendek. 
Kalau misalnya shalat malam dan kita mau memanjangkan shalat kita, maka kita pilih doa istiftah yang panjang.
Atau kalau tidak hafal yang panjang, yang pendek-pendek tersebut digabung sehingga menjadi panjang. 

Syaikh Albani rahimahullah, di sini beliau mengatakan: 
Dahulu Rasulullah Shalallahu 'alaihi wa sallam memulai bacaan shalatnya dengan doa-doa yang banyak dan beragam, yaitu doa istiftah. Pada bacaan ini Rasulullah Shalallahu 'alaihi wa sallam memuji Allah, mengagungkan, dan menyanjung-Nya. 

Dan Rasulullah Shalallahu 'alaihi wa sallam memerintahkan kepada seorang sahabat yang shalatnya tidak baik dan mengatakan kepadanya: 

(( لا تَتِمُّ صلاةٌ لأحدٍ مِن الناسِ حَتَّى يُكبِّرَ )) 

"Shalat seseorang tidaklah sempurna sehingga dia bertakbir" 

(( ويَحْمَدَ اللهَ جلَّ وَعَزّ ويُثنيَ عَلَيْهِ )) 

"Dan memuji Allah Subhanahu wa Ta'ala dan menyanjung-Nya" 

 (( ويَقرَأَ بِمَا تَيَسَّرَ مِنَ القُرآنِ )) 

"Dan membaca dari Al-Qur'an yang mudah baginya" 

Ini menunjukkan bahwa doa istiftah diperintahkan oleh Rasulullah Shalallahu 'alaihi wa sallam. Namun perintah tersebut adalah perintah anjuran, tidak sampai pada derajat kewajiban. Ini adalah perintah anjuran. Dan perintah anjuran ini sebisa mungkin kita lakukan selama keadaan tidak mendesak kita untuk meninggalkannya. 

Selama keadaan tidak mendesak kita untuk meninggalkannya, maka kita berusaha semaksimal mungkin untuk melakukan apapun yang diperintahkan oleh Rasulullah Shalallahu 'alaihi wa sallam. Baik dikatakan oleh orang-orang itu sunnah atau kalau wajib jelas harus kita lakukan, jangan sampai kita melihat dahulu ini amalan sunnah ataukah amalan wajib, kemudian setelah itu kita kalau tahu itu sunnah kita ingin meninggalkannya. Tapi berusahalah semaksimal mungkin untuk menjalankan apapun yang diperintahkan oleh Rasulullah Shalallahu 'alaihi wa sallam. 

Demikianlah yang bisa kita kaji pada kesempatan kali ini. Semoga  menjadi ilmu yang bermanfaat dan diberkahi oleh Allah Jalla wa 'Alaa. 

InsyaaAllah kita akan lanjutkan pada kesempatan yang akan datang. 

والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته 

══════ ∴ |GiS| ∴ ══════  

📣 Official Account Grup Islam Sunnah 


📱 Fanpage: web.facebook.com/grupislamsunnah
📷 Instagram: instagram.com/grupislamsunnah
🌐 WebsiteGBS: grupbelanjasunnah.com
📧 Telegram: t.me/s/grupislamsunnah
🎥 YouTube: bit.ly/grupislamsunnah

Kamis, 09 September 2021

Audio ke-40 : Pembahasan tentang (Lanjutan) Meletakkan Tangan dan Larangan Bertolak Pinggang Dalam Sholat

╔══❖•ೋ°📖° ೋ•❖══╗
                    Whatsapp              
        Grup Islam Sunnah | GiS
            ☛ Pertemuan ke - 40
╚══❖•ೋ°👥° ೋ•❖══╝

🌏 WebsiteGiS: https://grupislamsunnah.com/

🗓 JUM'AT
         03 Safar 1443 H
         10 September 2021 M

👤  Oleh: Ustadz Dr. Musyaffa Ad Dariny M.A. حفظه الله تعالى

📚    Kitab Shifatu Sholatin Nabiyyi Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam Minattakbiri ilattaslim ka-annaka taroha (Sifat Shalat Nabi mulai dari takbir sampai salamnya seakan-akan Anda melihatnya) karya Asy Syekh Al-Albani -Rahimahullah.

💽   Audio ke-40 : Pembahasan tentang (Lanjutan) Meletakkan Tangan dan Larangan Bertolak Pinggang Dalam Sholat


═══════════════════    

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الحمد لله، والصلاة والسلام على رسول الله، وعلى آله وصحبه ومن تبع هداه 

Kaum muslimin dan kaum muslimat yang saya cintai karena Allah, khususnya anggota GiS -Grup Islam Sunnah- yang semoga dirahmati dan diberkahi oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala. 

Pada kesempatan yang berbahagia ini kita akan bersama-sama mengkaji sebuah kitab yang sangat bagus yang ditulis oleh Asy Syaikh Al Albani rahimahullah, yakni kitab Sifat Shalat Nabi atau sebagaimana judul aslinya Shifatu Shalatin Nabiyyi Shalallahu 'Alaihi wa Sallam Minattakbiri ilattaslim Ka-annaka Taraha (Sifat Shalat Nabi Mulai dari Takbir sampai Salamnya Seakan-akan Anda Melihatnya). 

Syaikh Al Albani rahimahullah membahas tentang masalah meletakkan tangan kanan di atas tangan kiri. 

(( وَكَانَ يَضَعُ اليُمْنَى عَلَى ظَهْرِ كَفِّهِ اليُسْرَى )) 

Dahulu Rasulullah Shalallahu 'alaihi wa sallam biasa meletakkan tangan kanannya di atas [ كَف ]. 

Kaf adalah (punggung) telapak tangan - yang kiri, berarti seperti ini: di dada kemudian meletakkan tangan kanannya di atas Kaf (punggung telapak tangan). Ini model yang pertama; ini variasi yang pertama; cara yang pertama (tangan kanan memegang punggung telapak tangan kiri). 

(( وَالرُسْغِ )) 

Ar-rus'gh adalah ini (pergelangan tangan) 
atau seperti ini (tangan kanan memegang pergelangan tangan kiri)
bisa meletakkannya seperti ini (telapak tangan di atas punggung telapak tangan kiri)
bisa meletakkannya seperti ini (tangan kanan di atas pergelangan tangan kiri)
bisa meletakkannya seperti ini (pergelangan tangan kanan di atas pergelangan tangan kiri) 

(( وَالسَّاعِدِ )) 

Saa'id adalah ini, bagian ini (lengan bawah)
Beliau biasa meletakkan tangan kanan Beliau di atas punggung telapak tangan kiri, atau pergelangan Beliau (ini pergelangan), atau lengan bawah kiri, lengan bawah kiri, lengan bawah bagian ini.
Jadi, ini variasi. Boleh dilakukan semuanya. 

(( وَكَانَ يَضَعُهُمَا عَلَى الصَّدْرِ ))

Dan Beliau dahulu meletakkan kedua tangannya di atas dada. 

Kata-kata [ ِعَلَى الصَّدْر ]  di atas dada, ini sangat jelas, menunjukkan bahwa Beliau dahulu meletakkannya di atas dada. Sehingga pendapat-pendapat yang menyelisihi lafal hadits ini menjadi lemah karena adanya hadits tersebut. 

Kemudian, tangan ini bisa hanya diletakkan di atas (punggung telapak tangan kiri), di atasnya, (atau) bisa dipegang, bisa dipegang seperti ini (tangan kanan memegang punggung tangan kiri); bisa hanya diletakkan saja. 
Ini juga variasi yang lain. 

Bisa seperti ini (telapak tangan kanan diletakkan di atas punggung telapak tangan kiri);
bisa seperti ini (tangan kanan memegang pergelangan tangan kiri);
bisa seperti ini (tangan kanan di atas pergelangan tangan kiri);
bisa seperti ini (pergelangan tangan kanan di atas pergelangan tangan kiri);
bisa dipegang (tangan kanan memegang lengan tangan kiri), bisa diletakkan saja. 

(( وَكَانَ يَنْهَى عَنِ الإِخْتِصَارِ فِيْ الصَّلاَةِ )) 

Dan dahulu Rasulullah shalallahu 'alaihi wa sallam melarang dari tindakan bertolak pinggang dalam shalat. 

Ini tidak diperbolehkan di dalam shalat, Rasulullah shalallahu 'alaihi wa sallam dahulu melarangnya. Meletakkan kedua tangan di atas pinggang. Ini namanya [ إخْتِصَار ] bahasanya. Dan ini dilarang ketika kita shalat. 

Kenapa [ إخْتِصَار ] ini dilarang di dalam shalat? Karena disebutkan di sini: 

وَهُوَ الصُلْبُ الَذِيْ كَانَ يَنْهَى عَنْهُ 

Bertolak pinggang ini dilarang karena seperti bentuk penyaliban yang dulu pernah dilarang oleh Nabi Muhammad shalallahu 'alaihi wa sallam. Dan ini, tindakan seperti ini (bertolak pinggang)/ bentuk seperti ini, sangat tidak selaras dengan sikap tunduk dan sikap merendah ketika sedang menghadap Pencipta. Makanya hal tersebut dilarang/diharamkan. 

Ketika kita shalat, kita sedang menghadap kepada Dzat Yang Maha Besar, Dzat Yang Maha Agung, Dzat Yang Maha Mulia, Dzat yang menciptakan alam semesta ini. Makanya semua gerakan shalat menunjukkan ketundukan seorang hamba kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala. Sehingga gerakan-gerakan yang bertentangan dengan nilai ketundukan, itu dilarang. 

Nanti kita akan mengetahui gerakan-gerakan di dalam shalat yang dilarang oleh Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam. Dan kalau kita lihat, larangan-larangan tersebut, kenapa dilarang? Karena bertentangan dengan nilai ketundukan. Misalnya gerakan seperti duduknya anjing; ini bertentangan dengan nilai ketundukan. Misalnya gerakan seperti mematuknya burung; ini juga tidak sesuai dengan nilai ketundukan. 

Orang yang tunduk tidak melakukan demikian. Dia melakukannya dengan sempurna. Dia melakukannya dengan tenang. Sedangkan tindakan atau sikap mematuk seperti mematuknya burung, ini bertentangan dengan nilai ketundukan kita kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala. 

Seperti misalnya ini, bertolak pinggang, ini sangat tidak sesuai dengan nilai ketundukan kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala yang ada di depan kita. Kita sedang menghadap Allah Subhanahu wa Ta'ala Dzat yang Maha Agung tersebut. Gerakan seperti ini sangat tidak selaras dengan nilai ketundukan, sehingga hal tersebut diharamkan. Kemudian, gerakan seperti menderungnya onta; ini juga tidak sesuai dengan ketundukan. Maka dilarang hal tersebut. 

Intinya semua gerakan yang tidak sesuai dengan nilai ketundukan dilarang di dalam shalat. Maka ketika kita di dalam shalat, kita lakukan dengan sangat baik, dengan sangat tunduk, kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala. Kita juga tidak boleh misalnya, melihat langit di dalam shalat. Karena itu bertentangan dengan ketundukan kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala. Kita harus melihat ke bawah, karena ini yang sesuai dengan ketundukan kita kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala. 

Demikianlah yang bisa kita kaji pada kesempatan kali ini. Semoga  menjadi ilmu yang bermanfaat dan diberkahi oleh Allah Jalla wa 'Alaa. 

InsyaaAllah kita akan lanjutkan pada kesempatan yang akan datang. 

والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته 

══════ ∴ |GiS| ∴ ══════  

📣 Official Account Grup Islam Sunnah 

📱 Fanpage: web.facebook.com/grupislamsunnah
📷 Instagram: instagram.com/grupislamsunnah
🌐 WebsiteGBS: grupbelanjasunnah.com
📧 Telegram: t.me/s/grupislamsunnah
🎥 YouTube: bit.ly/grupislamsunnah

Selasa, 07 September 2021

Audio ke-38: Pembahasan tentang Mengangkat Tangan Ketika Takbiratul Ihram

╔══❖•ೋ°📖° ೋ•❖══╗
                    Whatsapp              
        Grup Islam Sunnah | GiS
           ☛ Pertemuan ke - 38
╚══❖•ೋ°👥° ೋ•❖══╝

🌏 https://grupislamsunnah.com/

🗓  RABU
         01 Safar1443 H
         08 September 2021 M

👤  Oleh : Ustadz Dr. Musyaffa Ad Dariny M.A. حفظه الله تعالى

📚    Kitab Shifatu Sholatin Nabiyyi Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam Minattakbiri ilattaslim ka-annaka taroha (Sifat Shalat Nabi mulai dari takbir sampai salamnya seakan-akan Anda melihatnya) karya Asy Syekh Al-Albani -Rahimahullah.

💽   Audio ke-38:  Pembahasan tentang Mengangkat Tangan Ketika Takbiratul Ihram

═══════════════════ 

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الحمد لله، والصلاة والسلام على رسول الله، وعلى آله وصحبه ومن تبع هداه 

Kaum muslimin dan kaum muslimat yang saya cintai karena Allah, khususnya anggota GiS -Grup Islam Sunnah- yang semoga dirahmati dan diberkahi oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala. 

Pada kesempatan yang berbahagia ini kita akan bersama-sama mengkaji sebuah kitab yang sangat bagus yang ditulis oleh Asy Syaikh Al Albani rahimahullah, yakni kitab Sifat Shalat Nabi atau sebagaimana judul aslinya Shifatu Shalatin Nabiyyi Shalallahu 'Alaihi sa Sallam Minattakbiri ilattaslim Ka-annaka Taraha (Sifat Shalat Nabi Mulai dari Takbir sampai Salamnya Seakan-akan Anda Melihatnya). 

Syaikh Al-Albani rahimahullah membahas tentang mengangkat kedua tangan. 

Mengangkat kedua tangan ketika Takbiratul Ihram, ini juga sesuatu yang diwajibkan karena Rasulullah Shalallahu 'alaihi wa sallam dahulu melakukannya demikian. 

(( وكَانَ يَرْفَعُ يَدَيْهِ تَارَةً مَعَ التّكْبِيْرِ )) 

Syaikh Albani rahimahullah di sini  menjelaskan tentang kapan kita mengangkat tangan: ketika Takbiratul Ihram. Beliau mengatakan dahulu Rasulullah Shalallahu 'alaihi wa sallam kadang mengangkat tangannya ketika takbir, bersamaan dengan takbirnya. Ketika takbir, ketika itu diangkat. Ini bersamaan. 

(( وَتَارَةً بَعْدَ التَكْبِيْرِ )) 

Kadang-kadang setelah selesai takbir.
-> Berarti: "Allahu Akbar", baru mengangkat tangan. 

(( وَتَارَةً قَبْلَهُ )) 

Kadang-kadang sebelum takbir.
-> Jadi mengangkat tangan dahulu, (lalu) "Allahu Akbar". 

Ini variasi yang diberikan oleh Nabi Muhammad Shalallahu 'alaihi wa sallam dalam mengangkat tangan. 

Dan khilaf yang seperti ini namanya khilaf tanawwu'. Khilaf yang seperti ini (perbedaan yang seperti ini) adalah perbedaan yang tanawwu'. 
Tanawwu' maksudnya adalah variasi; variasi ibadah. Ada cara melakukannya berbeda-beda, tapi semuanya diriwayatkan dari Nabi Muhammad Shalallahu 'alaihi wa sallam dengan sanad yang shahih. Sehingga kita boleh memilih salah satu dari cara tersebut. 

Perbedaan yang seperti ini bukan perbedaan yang bertentangan. Kenapa demikian? Karena Rasulullah Shalallahu 'alaihi wa sallam shalatnya di dalam hidupnya banyak, dan kadang shalat yang demikian; kadang shalatnya demikian; kadang shalatnya demikian. Dan itu menunjukkan bahwa semua yang dilakukan oleh Rasulullah Shalallahu 'alaihi wa sallam adalah disyariatkan; adalah Sunnah fi'liyah. 

Mengangkat tangan tersebut bisa bersamaan dengan takbirnya, bisa setelah takbirnya, bisa sebelum takbirnya. 

(( وَكَانَ يَرْفَعُهُمَا مَمْدُوْدَةً الأَصَابَِع لَا يُفَرِّجْ بَيْنَهُمَا وَلَا يَضُمُّهَا )) 

Dahulu Rasulullah Shalallahu 'alaihi wa sallam ketika mengangkat dua tangannya, beliau mengangkatnya dalam keadaan jari-jemarinya dilepaskan, direntangkan. Beliau tidak merenggangkannya, Beliau juga tidak merapatkannya. 

Tapi biasa, dalam keadaan normal; tidak mengepal, tapi direntangkan dan tidak terlalu dirapatkan. Tidak terlalu direnggangkan; tapi wajar, tidak terlalu  direnggangkan; tidak terlalu dirapatkan. 

(( وَكَانَ يَجْعَلُهُمَا حَذْوَ مَنْكِبَيْهِ )) 

Dan dahulu Rasulullah Shalallahu 'alaihi wa sallam menjadikan kedua tangannya sejajar dengan pundaknya. 

Sejajar dengan pundaknya; ini pundak, tangan sejajar dengan pundak. 

(( وَرُبِّمَا كَانَ يَرْفَعُهُمَا حَتَّى يُحَاذِيَ بِهِمَا فُرُوْعَ أُذُنَيْهِ )) 

Dan kadang-kadang Rasulullah Shalallahu 'alaihi wa sallam mengangkat kedua tangannya hingga sejajar dengan daun kedua telinga beliau. 

Berarti lebih tinggi lagi, sejajar dengan daun telinga Beliau. 

Ini juga khilaf tanawwu'. Kadang seperti ini; kadang seperti ini; kita boleh melakukan keduanya. 

Makanya kalau ada yang berbeda-beda dalam masalah ini, kalau kita sudah tahu ilmunya, kita tidak akan merasa sempit hati kita. Karena ada yang berbeda-beda seperti ini, kita tidak akan merasa bingung. Dan kita tahu bahwa semuanya adalah sesuai dengan tuntunan. Dahulu Rasulullah shalallahu 'alaihi wa sallam melakukan semuanya. 

Demikianlah yang bisa kita kaji pada kesempatan kali ini. Semoga  menjadi ilmu yang bermanfaat dan diberkahi oleh Allah Jalla wa 'Alaa. 

InsyaaAllah kita akan lanjutkan pada kesempatan yang akan datang. 

والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته 

══════ ∴ |GiS| ∴ ══════  

📣 Official Account Grup Islam Sunnah 

📱 Fanpage: web.facebook.com/grupislamsunnah
📷 Instagram: instagram.com/grupislamsunnah
🌐 WebsiteGBS: grupbelanjasunnah.com
📧 Telegram: t.me/s/grupislamsunnah
🎥 YouTube: bit.ly/grupislamsunnah

Senin, 06 September 2021

💽 Audio ke-37: Pembahasan tentang Takbiratul Ihram Bag 02

GiS | BANK MATERI:
╔══❖•ೋ°📖° ೋ•❖══╗
                    Whatsapp              
       Grup Islam Sunnah | GiS
         ☛ Pertemuan ke-37
╚══❖•ೋ°👥° ೋ•❖══╝ 

🗓  SELASA
         29 Muharram 1443 H
         7 September 2021 M 

👤  Oleh : Ustadz Dr. Musyaffa Ad Dariny M.A. حفظه الله تعالى 

📚    Kitab Shifatu Sholatin Nabiyyi Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam Minattakbiri ilattaslim ka-annaka taroha (Sifat Shalat Nabi mulai dari takbir sampai salamnya seakan-akan Anda melihatnya) karya Asy Syekh Al-Albani -Rahimahullah.

💽   Audio ke-37: Pembahasan tentang Takbiratul Ihram Bag 02 

═══════════════════ 

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الحمد لله، والصلاة والسلام على رسول الله، وعلى آله وصحبه ومن تبع هداه 

Kaum muslimin dan kaum muslimat yang saya cintai karena Allah, khususnya anggota GiS -Grup Islam Sunnah- yang semoga dirahmati dan diberkahi oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala. 

Pada kesempatan yang berbahagia ini kita akan bersama-sama mengkaji sebuah kitab yang sangat bagus yang ditulis oleh Asy Syaikh Al Albani rahimahullah, yakni kitab Sifat Shalat Nabi atau sebagaimana judul aslinya Shifatu Shalatin Nabiyyi Shalallahu 'Alaihi sa Sallam Minattakbiri ilattaslim Ka-annaka Taraha (Sifat Shalat Nabi Mulai dari Takbir sampai Salamnya Seakan-akan Anda Melihatnya). 

Syekh Al-Albani rahimahullah membahas tentang takbir. 
Beliau mengatakan, 

(( وَ كَانَ إِذَا مَرِضَ ))

Dan dahulu Rasulullah Shalallahu 'alaihi wa sallam ketika beliau sakit, 

(( رَفَعَ أَبُو بَكْرٍ صَوْتَهُ )) 

Abu Bakar mengangkat suaranya. 

(( رَفَعَ أَبُو بَكْرٍ صَوْتَهُ حَتَّى يُسْمِعَ مَنْ خَلْفَهُ، يُبَلِّغُ النَّاسَ تَكْبِيْرَهُ صلى الله عليه وسلم )) 

Sahabat Abu Bakar mengangkat suara takbirnya untuk menjadikan manusia yang lain mendengar takbirnya Nabi Muhammad Shalallahu 'alaihi wa sallam. 

Ini dalil disyariatkannya mengulang takbirnya Imam dengan suara yang keras agar makmum mendengar. Bukan berarti Rasulullah Shalallahu 'alaihi wa sallam tidak mengucapkan takbirnya, tapi Rasulullah Shalallahu 'alaihi wa sallam ketika shalat suara beliau menjadi lemah. Padahal makmum beliau banyak. Ketika makmum beliau banyak, maka yang di belakang apabila suaranya Rasulullah Shalallahu 'alaihi wa sallam rendah, lemah karena beliau sakit, maka butuh orang lain untuk menyampaikan gerakan Nabi Muhammad Shalallahu 'alaihi wa sallam. 

Agar mereka tahu gerakan Rasulullah Shalallahu 'alaihi wa sallam, harus ada suara yang sampai kepada makmum yang jauh. Makanya sahabat Abu Bakar radhiallahu anhu mengangkat suaranya. 

Ini disyariatkan kalau imamnya suaranya lemah dan tidak sampai kepada makmum, atau makmum yang jauh. Kalau sudah sampai, tidak perlu. Yang sesuai dengan sunnah adalah yang demikian. 

Jadi menyampaikan suara imam kepada makmum yang jauh, itu disyariatkan ketika dibutuhkan. Ketika tidak dibutuhkan maka tidak disyariatkan. 

Seperti misalnya sekarang, orang sekarang walaupun makmumnya sebanyak apapun, sudah cukup dengan mikrofon. Karena suara dia sudah sampai ke makmum yang paling belakang, bahkan sudah sampai keluar masjid. Sehingga tidak perlu lagi ditambahi dengan suara orang lain untuk menyampaikan suara tersebut kepada makmum yang terjauh, karena semuanya sudah tahu. 

Makanya di zaman Nabi Muhammad Shalallahu 'alaihi wa sallam prakteknya juga demikian. Kalau Rasulullah Shalallahu 'alaihi wa sallam suaranya bisa keras maka tidak ada yang menyampaikan suara beliau, tidak ada yang mengulangi agar makmum yang paling jauh mendengar suara beliau. Tidak ada. Tapi sahabat Abu Bakar radhiallahu anhu mengulangi suara beliau, suara takbir beliau, ketika suara beliau lemah. Sehingga dimungkinkan makmum yang terjauh tidak mendengar suara beliau. 

وَكَانَ يَقُوْلُ: (( إِذَا قَالَ الإِمَامُ ؛ اللهُ أَكْبَرُ؛ فَقُوْلُوا اللهُ أَكْبَرُ )) 

Dahulu Rasulullah Shalallahu 'alaihi wa sallam pernah mengatakan: "Apabila seorang Imam mengatakan/mengucapkan Allahu Akbar, maka ucapkanlah Allahu Akbar". 

Ini menunjukkan bahwa takbir ini tidak hanya wajib bagi imam saja. Tapi juga wajib bagi makmum. 

Makanya makmum ketika bertakbir terutama Takbiratul Ihram, ucapkanlah dengan lisan. Jangan hanya dengan hati. Karena "perkataan hati" bukan "ucapan". Yang dimaksud dalam bahasa Arab, "ucapan" itu hanya khusus lisan saja. Kalau orang Arab ingin mengatakan ucapan hati, mereka akan menambah, menambah batasan dengan menambah kata-katanya: "ini ucapan hati". Tapi kalau hanya "ucapan" saja, yang mereka maksud adalah "ucapan lisan". 

Kemudian, kalau tadi kita lihat dari awal sampai akhir dalil-dalil yang disebutkan oleh Syaikh Albani rahimahullah, tidak ada satupun dalil-dalil tersebut yang mengubah kata-kata "Allahu Akbar" dengan kata-kata yang lain. Walaupun misalnya ada kata yang lain yang bisa mewakili Allahu Akbar, ini tidak disyariatkan. Karena tidak pernah satu kali pun Nabi Muhammad Shalallahu 'alaihi wa sallam mengganti kata-kata Allahu Akbar dengan kata-kata yang lainnya. Misalnya dengan mengatakan Arrahmaanu Akbar. Ini bisa mewakili tapi tidak disyariatkan. Karena Rasulullah Shalallahu 'alaihi wa sallam dahulu tidak pernah melakukan hal yang seperti ini. Misalnya lagi, Arrahiimu a'dzam, tidak diperbolehkan. Karena apa? Karena kita shalat harus sesuai dengan tuntunan Nabi Muhammad Shalallahu 'alaihi wa sallam. 

(( صَلُّوا كَمَا رَأَيْتُمُوْنِيْ أُصَلِّي )) 

"Shalatlah kalian sebagaimana kalian melihatku shalat" 

Ketika Rasulullah Shalallahu 'alaihi wa sallam tidak pernah satu kali pun mengganti lafal takbirnya dengan lafal takbir yang lain dan beliau hanya mencontohkan "Allahu Akbar", maka itulah yang disyariatkan. 

Ustadz, bagaimana kalau dengan bahasa Indonesia "Allah Maha Besar". 
Kita katakan tidak boleh, walaupun makna tersebut mewakili lafal Allahu Akbar. Makanya tidak boleh kita -misalnya- mengganti bacaan Al-fatihah dengan terjemahnya. Walaupun bisa mewakili, tetap saja tidak diperbolehkan karena Rasulullah Shalallahu 'alaihi wa sallam dahulu shalatnya tidak demikian. Mengganti dengan bahasa Arab pun yang semakna, ini tidak diperbolehkan, apalagi mengganti dengan bahasa lain. 

Demikianlah yang bisa kita kaji pada kesempatan kali ini. Semoga menjadi ilmu yang bermanfaat dan diberkahi oleh Allah Jalla wa 'Alaa. 

InsyaaAllah kita akan lanjutkan pada kesempatan yang akan datang. 

والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته 

══════ ∴ |GiS| ∴ ══════  

📣 Official Account Grup Islam Sunnah 


📱 Fanpage: web.facebook.com/grupislamsunnah
📷 Instagram: instagram.com/grupislamsunnah
🌐 WebsiteGBS: grupbelanjasunnah.com
📧 Telegram: t.me/s/grupislamsunnah
🎥 YouTube: bit.ly/grupislamsunnah

Minggu, 05 September 2021

Audio ke-36: Pembahasan tentang Takbiratul Ihram

GiS | BANK MATERI:
╔══❖•ೋ°📖° ೋ•❖══╗
                    Whatsapp              
       Grup Islam Sunnah | GiS
          ☛ Pertemuan ke-36
╚══❖•ೋ°👥° ೋ•❖══╝ 


🌏 https://grupislamsunnah.com/

🗓  SENIN
         28 Muharram 1443 H
         06 September 2021 M 

👤  Oleh : Ustadz Dr. Musyaffa Ad Dariny M.A. حفظه الله تعالى 

📚    Kitab Shifatu Sholatin Nabiyyi Shalallahu 'Alaihi Wa Sallam Minattakbiri ilattaslim ka-annaka taroha (Sifat Shalat Nabi mulai dari takbir sampai salamnya seakan-akan Anda melihatnya) karya Asy Syekh Al-Albani -Rahimahullah.

💽   Audio ke-36: Pembahasan tentang Takbiratul Ihram 

═══════════════════    

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الحمد لله، والصلاة والسلام على رسول الله، وعلى آله وصحبه ومن تبع هداه 

Kaum muslimin dan kaum muslimat yang saya cintai karena Allah, khususnya anggota GiS -Grup Islam Sunnah- yang semoga dirahmati dan diberkahi oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala. 

Pada kesempatan yang berbahagia ini kita akan bersama-sama mengkaji sebuah kitab yang sangat bagus yang ditulis oleh Asy Syaikh Al Albani rahimahullah, yakni kitab Sifat Shalat Nabi atau sebagaimana judul aslinya Shifatu Shalatin Nabiyyi Shalallahu 'Alaihi wa Sallam Minattakbiri ilattaslim Ka-annaka Taraha (Sifat Shalat Nabi Mulai dari Takbir sampai Salamnya Seakan-akan Anda Melihatnya). 

Syaikh Al-Albani rahimahullah membahas tentang takbir. Takbir merupakan wajibnya shalat. Dan ini merupakan rukun karena takbiratul ihram letaknya di dalam shalat, sehingga menjadi rukun. 

Kita harus mengucapkannya dengan lisan kita. Tidak cukup hanya dengan perkataan hati, karena Rasulullah Shalallahu 'alaihi wa sallam memerintahkan salah seorang sahabatnya untuk bertakbir dengan lisannya, dengan perkataan. 

Dahulu Rasulullah Shalallahu 'alaihi wa sallam biasa membuka shalatnya dengan perkataan beliau [ اللهُ أَكْبَرُ ]. Di sini ada kata-kata "dengan perkataan" (ِبِقَولِه ), dan perkataan itu harus dengan lisan. Perkataan itu harus ada suaranya. Makanya kita harus berhati-hati dalam masalah ini. Jangan hanya perkataan hati saja kita membuka shalat kita. Ini belum cukup, harus dengan perkataan lisan. 

وَ أَمَرَ بِذَلِكَ (المُسِيْء صَلاَتَهُ) كَمَا تَقَدَّم 

"Dan Rasulullah Shalallahu 'alaihi wa sallam memerintahkan (orang yang melakukan shalat secara tidak benar) untuk mengucapkannya." 

Ini harus dengan ucapan. Sebagaimana yang telah disebutkan sebelumnya. 

Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam juga bersabda: 

  (( إنَّه لا تَتِمُّ صلاةٌ لأحدٍ مِن الناسِ حتى يَتوضَّأَ فيضَعَ الوُضوءَ مَواضعَه، ثمَّ يقولَ: اللهُ أكبرُ )) 

--> Ini juga dalil lain bahwa ketika kita shalat kita harus bertakbir. Dan takbir tersebut harus dengan ucapan. 

"Sesungguhnya tidak sempurna shalat seseorang sehingga dia berwudhu lantas meletakkan wudhunya sesuai dengan tempatnya (maksudnya berwudhu secara sempurna), kemudian dia mengucapkan: Allahu Akbar" 

Beliau juga bersabda: 

(( مِفْتَاحُ الصَّلَاةِ الطُّهُورُ )) 

"Kunci shalat adalah bersuci" 

(( وَتَحْرِ يمُهَا التَّكْبِيرُ )) 

"dan tahrim-nya adalah ucapan takbir" 

Tahrim maksudnya adalah sesuatu yang mengharamkan. 
Yang asalnya boleh makan, setelah itu tidak boleh makan dan minum di dalam shalat. Yang asalnya boleh melakukan sesuatu yang dihalalkan (banyak sesuatu yang dihalalkan sebelum shalat) ketika dia takbir menjadi haram. 
Makanya namanya "Takbiratul Ihram", takbir yang mengharamkan. 
Sesuatu yang asalnya dihalalkan misalnya banyak bergerak, menjadi tidak boleh lagi; berbicara dengan manusia menjadi tidak boleh lagi yang asalnya boleh.  

(( وَتَحْرِيمُهَا التَّكْبِيرُ )) 

"dan tahrim-nya adalah ucapan takbir" 

Kata-kata "ucapan takbir" ini menunjukkan bahwa takbir itu harus dengan ucapan. 

(( وَتَحْلِيلُهَا التَّسْلِيمُ )) 

"dan tahlil-nya adalah ucapan salam" 

Tahlil ini kebalikan dari tahrim yang menjadikan dia halal kembali. 
Yang asalnya tadi diharamkan untuk berbicara; diharamkan untuk makan dan minum; diharamkan untuk banyak bergerak; sekarang menjadi halal lagi. 
-> Mengakhiri shalat tersebut dengan dengan salam. 

Dan dahulu Rasulullah Shalallahu 'alaihi wa sallam mengangkat suaranya takbir-nya sampai orang-orang yang di belakangnya mendengar suara beliau. 

(( وَكَانَ يَرْفَعُ صَوْتَهُ بِالتَّكْبِيْرِ حَتَّى يُسْمِعَ مَنْ خَلْفَهُ )) 

Beliau Shalallahu 'alaihi wa sallam dahulu mengeraskan suara Beliau dengan ucapan takbirnya, sehingga Beliau menjadikan para makmum (orang-orang yang shalat di belakang Beliau) mendengar ucapan Beliau, mendengar takbir Beliau. 

Demikianlah yang bisa kita kaji pada kesempatan kali ini. Semoga menjadi ilmu yang bermanfaat dan diberkahi oleh Allah Jalla wa 'Alaa. 

InsyaaAllah kita akan lanjutkan pada kesempatan yang akan datang. 

والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته 

══════ ∴ |GiS| ∴ ══════  

📣 Official Account Grup Islam Sunnah 

📱 Fanpage: web.facebook.com/grupislamsunnah
📷 Instagram: instagram.com/grupislamsunnah
🌐 WebsiteGBS: grupbelanjasunnah.com
📧 Telegram: t.me/s/grupislamsunnah
🎥 YouTube: bit.ly/grupislamsunnah